Kacung Tegaskan Silaturrahmi sebagai Kekuatan NU
NU Online · Selasa, 30 Oktober 2012 | 12:28 WIB
Jakarta, NU Online
NU memiliki potensi besar dalam membangun kekuatan ekonomi kebangsaan. Potensi besar itu terkandung dalam keseharian masyarakat NU. Kemakmuran rakyat bisa diwujudkan melalui budaya-budaya yang berkembang di masyarakat NU sendiri.
<>
“Budaya berkumpul dan silaturrahmi sering dilakukan oleh orang-orang NU,” kata Kacung Marijan, Ketua PBNU saat diskusi perdana Kajian 164 di aula lantai delapan Gedung PBNU, jalan Kramat Raya nomor 164, Selasa (30/10) petang.
Kacung, guru besar Universitas Airlangga menegaskan bahwa perilaku keseharian NU seperti berkumpul untuk Yasinan dapat menjadi kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan. Peningkatan ekonomi masyarakat akan memungkinkan bilamana pertemuan semacam itu ditindaklanjuti sebagai kegiatan-kegiatan yang bermanfaat langsung bagi masyarakat itu sendiri.
Kalau budaya itu hanya bersifat upacara-upacara keagamaan semata, maka aneka bentuk kebudayaan yang melibatkan semua organ masyarakat tidak bisa bernilai guna secara ekonomis, imbuh Kacung.
Menurutnya, wadah dan momen yang mempertemukan warga NU harus diambil nilai gunanya secara praktis. Upacara-upacara kebudayaan dalam NU itu bisa diteruskan menjadi jejaring-jejaring perekonomian yang kokoh.
Dengan demikian, warga NU tidak hanya mendapat manfaat rohani, tetapi juga menerima manfaat secara ekonomis. Pertemuan-pertemuan itu dimanfaatkan sebagai wahana strategis dalam membangun koordinasi sesama anggota guna merebut peluang-peluang bisnis yang masih kosong.
Redaktur: Mukafi Niam
Penulis : Alhafiz Kurniawan
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
5
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
6
KH Afifuddin Muhajir: Mekanisme Pemilihan Pemimpin, Apakah Harga Mati atau Beradaptasi?
Terkini
Lihat Semua