Kang Said: Wali Songo Tanamkan Nilai Lewat Syair
NU Online · Jumat, 1 Februari 2013 | 02:36 WIB
Jakarta, NU Online
Pringatan hari lahir (Harlah) ke-87 NU di halaman kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (31/1) malam diisi dengan Pengajian dan diskusi Atlas Wali Songo bersama Kiai Kanjeng. Ribuan orang dari pelbagai latar belakang memenuhi halaman sampai ke jalan raya.<>
Sebelum mulai pengajian budaya dan diskusi, Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj memberikan kata sambutan diskusi atas penulisan Atlas Wali Songo yang ditulis Agus Sunyoto, sastrawan dan budayawan.
“Orang NU sudah akrab sekali dengan syair-syair atau puisi. Karena, sembilan wali sebagai perintis NU telah mengajarkan nilai-nilai keagamaan melalui syair dan aneka bentuk kesenian,” kata Kang Said.
Usai sambutan Kang Said, Emha Ainun Najib yang akrab disapa ‘Cak Nun’sebagai pemimpin grup musik Kiai Kanjeng mengantar pengajian budaya dan diskusi dengan pembacaan shalawat Nabi Muhamad SAW. Ribuan hadirin mengikuti shalawat yang dipimpin langsung Cak Nun.
Cak Nun dalam pengajian budaya dan diskusi terbuka merangkap sebagai pengulas dan moderator. Sementara, As‘ad Said Ali Wakil Ketua Umum PBNU dan Agus Sunyoto penulis Atlas Wali Songo duduk masing-masing di samping Cak Nun menghadapi ribuan hadirin yang meluber hingga bahu jalan raya dan setengah jalan menuju area parkir basement PBNU.
“Wali Songo telah melakukan transformasi hukum tata negara. Transformasi ini lebih merupakan sebuah terobosan dalam sejarah peradaban manusia,” kata Cak Nun yang mengenakan atasan dan bawahan hitam.
As‘ad Said Ali mengulas kisah dua wali yang berdekatan dengan kota Kudus daerah asalnya; Sunan Kudus dan Sunan Muria. “Sunan Muria adalah pencipta lagu Gundul-Gundul Pacul. Lagu itu berisikan pakem pemimpin yang senantiasa mengayomi rakyatnya dan selalu merakyat,” katanya.
Lantunan shalawat, hingga syair Ilir-ilir yang diciptakan oleh Sunan Bonang mengiringi diskusi. Para hadirin mengikuti pengajian budaya secara khidmat termasuk Ketua Umum PBNU, jajaran pengurus lajnah, lembaga dan banom NU.
“Dorongan penulisan Atlas Wali Songo ini, merupakan pembuktian ilmiah bahwa Wali Songo lah penyebar agama Islam secara masif. Karena, selama ini para penulis sejarah baik Barat maupun kalangan kampus mencoba mengingkari peran bahkan eksistensi Wali Songo,” tegas Agus yang juga menulis banyak karya sejarah dan novel.
Pengajian budaya dan diskusi Atlas Wali Songo, mulai sejak pukul 20.30 dan berakhir 00.16 Jumat dini hari. Pengajian budaya ditutup dengan pembacaan bersama shalawat Nabi sebelum diakhiri dengan doa.
Penulis: Alhafiz Kurniawan
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Logo Munas dan Konbes NU 2026, Unduh di Sini
3
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
4
Gelar Konfercab X, PCINU Australia-New Zealand Tegaskan Wajah Diaspora NU yang Inklusif dan Bermanfaat
5
Gempa M7,7 di Mindanao Filipina, BMKG: Akibat Aktivitas Subduksi Lempeng
6
Bahlil Janji BBM Subsidi Tak Naik hingga Akhir 2026, Pertamax Malah Melonjak Jadi Rp16.250 per Liter
Terkini
Lihat Semua