Kasus Child Grooming Aurelie Moeremans, Aktivis Ingatkan Bahaya Bahasa Seksis
NU Online Ā· Rabu, 14 Januari 2026 | 16:30 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kasus child grooming yang diungkap artis Aurelie Moeremans melalui buku memoarnya Broken StringsĀ menyita perhatian publik di media sosial. Peristiwa tersebut membuka diskursus lebih luas mengenai kekerasan seksual terhadap anak. Khususnya praktik manipulasi dan pembenaran yang kerap dilegitimasi melalui penggunaan bahasa seksis.
Aktivis perempuan Iim Fahima Jachja menyoroti maraknya ungkapan yang justru menyudutkan korban anak dalam berbagai kasus kekerasan seksual. Ia menegaskan, kalimat-kalimat semacam itu bukan sekadar opini personal, melainkan bagian dari rantai kekerasan yang terus direproduksi di ruang publik.
āKetika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat ini kepada anak di bawah umur yang menjadi korban kekerasan seksual, maka ia sedang mengambil bagian dalam kekerasan tersebut,ā ujar Iim lewat akun X-nyaĀ dikutip NU Online, Rabu (13/1/2026). NU Online telah mendapat izin IimĀ Fahima Jachja untuk mengutipnya.
Ia menyebut sejumlah ungkapan yang kerap muncul dalam kasus kekerasan seksual terhadap anak. Seperti āAnaknya juga mau kok,ā āAnaknya terlalu dewasa untuk umurnya,ā āDia kelihatan genit dari kecil,ā āPosting fotonya seperti orang dewasa,ā āDia kan tidak menolak,ā hingga āSama-sama menikmati.ā
Menurut Iim, ungkapan-ungkapan tersebut bekerja sebagai alat kekerasan karena memiliki tiga dampak serius. Pertama, menghapus fakta bahwa anak tidak pernah memiliki kapasitas untuk memberikan persetujuan (consent).
Kedua, mengalihkan tanggung jawab sepenuhnya dari pelaku kepada korban. Ketiga, menanamkan rasa malu dan rasa bersalah pada anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, bukan penghakiman.
Dampak kekerasan dinilai semakin berat ketika kalimat-kalimat tersebut dilontarkan oleh orang dewasa yang memiliki otoritas, seperti orang tua, guru, tokoh agama, aparat penegak hukum, maupun figur publik.
Dalam kondisi ini, kekerasan tidak berhenti pada tindakan pelaku pertama, tetapi berlanjut melalui bahasa, pembenaran, dan logika yang tampak rasional namun sejatinya kejam.
Iim menegaskan bahwa praktik pedofilia, grooming, maupun pemerkosaan terhadap anak (statutory rape) tidak pernah berkaitan dengan pakaian, sikap, atau respons anak. āSemua itu selalu tentang orang dewasa yang menyalahgunakan kuasanya,ā tegasnya.
Ia mengingatkan, setiap kali masyarakat memilih menyalahkan anak alih-alih mengecam pelaku, maka pada saat yang sama mereka sedang berpihak pada kejahatan dan memperpanjang siklus kekerasan seksual terhadap anak.
Terpopuler
1
Maju Calon Ketua Umum PBNU, Gus Yusuf Soroti Tata Kelola Organisasi dan Penguatan Pesantren
2
Khutbah Jumat: Menyeimbangkan Antara Percaya Takdir dan Tuntutan Menjaga Kesehatan
3
Khutbah Jumat: Menjaga Kesehatan dengan Berolahraga, Ikhtiar Menjaga Amanah dari Allah
4
Gus Rozin Siap Maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU, Bawa Misi Benahi Organisasi
5
Kongres Umat Islam Indonesia Usulkan Pembentukan Danantara Syariah untuk Konsolidasikan Ekonomi Umat
6
Prabowo Tuding Masih Ada Londo Ireng dengan Wajah Wartawan hingga LSM
Terkini
Lihat Semua