Nasional

Kemarau Panjang Ancam Pertanian, Hama Baru Bermunculan dan Risiko Gagal Panen Kian Nyata

NU Online  ·  Selasa, 7 Juli 2026 | 08:00 WIB

Kemarau Panjang Ancam Pertanian, Hama Baru Bermunculan dan Risiko Gagal Panen Kian Nyata

Panen perdana Beras NU di Desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, pada Senin (6/7/2026). (Foto: TVNU)

Lebak, NU Online

Kemarau panjang yang dipicu pemanasan global dan fenomena El Nino tidak hanya menyebabkan lahan pertanian mengalami kekeringan, tetapi juga memunculkan ancaman baru berupa lonjakan hama yang berpotensi memperparah gagal panen.

 

Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa krisis iklim kini telah mengubah pola ancaman terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional.


Sekretaris Lembaga Pengembangan Pertanian Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPP PBNU) Candra Apriyanto mengatakan bahwa dampak pemanasan global dan El Nino telah memicu kemunculan hama-hama baru di lahan pertanian Indonesia.


“Dampak pemanasan global dan El Nino di Indonesia ini melahirkan hama-hama baru,” ujarnya saat ditemui NU Online di sela-sela panen perdana Beras NU di Desa Sukamanah, Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, pada Senin (6/7/2026).


Candra mengungkapkan bahwa banyak kalangan, termasuk para ahli pertanian, memperkirakan musim panen tahun ini akan diwarnai tingginya angka kegagalan panen.


“Banyak yang memprediksi, termasuk ahli pertanian juga memprediksi bahwa tahun ini, pada periode panen ini, banyak sekali mengalami kegagalan panen,” katanya.


Menurutnya, salah satu penyebabnya ialah perubahan pola penyebaran organisme pengganggu tanaman akibat El Nino. “Kenapa? Karena tadi El Nino itu membawa pestisida dari luar melalui serangga kemudian kawin dengan serangga atau hama lokal, kemudian melahirkan hama-hama yang baru,” jelasnya.


Dia menilai petani harus segera memperkuat upaya pencegahan agar serangan hama tidak semakin meluas. “Penting bagi petani untuk mengantisipasi lonjakan hama-hama itu dengan memberikan pupuk organik,” tegasnya.

 

Candra mendorong pemerintah mengambil langkah nyata untuk mengantisipasi lonjakan hama yang semakin meningkat selama musim kemarau. “Saya berharap pemerintah, dinas dan kementerian pertanian segera ya mengatasi ini (lonjakan hama). Sehingga bisa meningkatkan ketahanan pangan,” katanya.

 

Dampak kemarau panjang tersebut telah dirasakan langsung oleh para buruh tani. Darsinah, buruh tani di Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak, Banten, mengatakan suhu panas yang berlangsung lama membuat tanaman padi cepat mengering dan hasil panen menurun.


“Musim panas ini bikin tanaman padi cepet kering,” ungkap Darsinah.

 

Ia mengaku sering menemukan bulir padi yang kosong saat membantu proses panen di sawah milik warga. “Saya kalau lagi manenin sawahnya orang, ngeliat banyak yang tidak ada isi berasnya,” tuturnya.

 

Selain menyebabkan tanaman mengering, cuaca panas juga memicu meningkatnya populasi berbagai hama yang menyerang padi. Darsinah mengatakan wereng kini menjadi ancaman paling sering ditemui di sawah. “Wereng sekarang lebih banyak,” katanya.

 

Menurutnya, keong juga masih menjadi hama yang merusak tanaman padi pada fase awal pertumbuhan. “Keong juga masih menyerang tanaman yang baru ditanam,” imbuhnya.

 

Ia menambahkan, kemunculan capung dan berbagai serangga lain juga semakin sering terlihat dibandingkan musim-musim sebelumnya. “Bahkan capung dan serangga lainnya juga semakin banyak terlihat di sawah,” ujar Darsinah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang