Ketika Gus Mus Bacakan Puisi Kesukaan Gus Dur
NU Online · Senin, 8 September 2014 | 13:01 WIB
Semarang, NU Online
Memasuki usia 70 tahun, Pejabat Rais Am PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) merasa bersyukur dan berterima kasih kepada sahabat-sahabatnya dari berbagai kalangan. Gus Mus mengakui, para sahabatnya telah banyak memberi bimbingan dan mengajarkan ilmu kehidupan bagi dirinya.
<>
"Semua sahabatku yang hadir di sini adalah guru-guru pembimbingku yang turut mengajari ilmu kehidupan kepadaku," katanya saat memberikan kata sambutan sebagai penutup acara Selametan 70 Tahun Gus Mus di Balairung Universitas Kampus PGRI Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (6/8).
Gus Mus mengakui semua tokoh politisi, budayawan, sastrawan, pejabat dan orang biasa telah menjadi sahabat yang turut mewarnai kehidupannya dengan ilmu di berbagai bidang. Ia menyebut beberapa tokoh yang hadir telah mengajarkan tentang sikap amanah, kejujuran, kesantunan, dan bahasa kata-kata keindahan.
"Saya belajar amanah dari Pak Maftuh Basuni. Belajar kejujuran dari Sujiwo Tedjo yang terkenal sebagai orang merdeka bebas bersuara. Saya belajar mengungkapkan hati dengan Goenawan Mohamad. Saya belajar dari politisi santun bersama Pak Menag Lukman Saifudin," kata Gus Mus.
Secara khusus, Gus Mus juga mengutarakan dirinya belajar semangat berjuang, memperkokoh kemanusiaan, kebhinekaan dan keindonesiaan dari istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Hj Sinta Nuriyah. Kepada orang biasa, kiai yang piawai bersyair dan melukis ini juga mengakuinya sebagai guru.
"Saya mencintai Anda semuanya dan akan membawa nama-nama anda dalam doa-doa saya. Karena saya tidak bisa membayar keikhlasan saudara meluangkan waktu menghadiri acara ini," tandasnya.
Gus Mus mengajak semuanya tetap menjadi Indonesia yang baik, umat beragama yang baik, dan politisi maupun pejabat yang baik pula. Saat menutup sambutannya, kiai kelahiran Rembang 10 Agustus 1944 ini membacakan sebuah puisi pendek yang menurutnya kesukaan KH Gus Dur. Ia juga mengajak hadirin untuk membaca surat Al-Fatihah untuk Gus Dur.
Sebelum dibaca, para hadirin diminta merenung dan meresapi puisi yang akan dibawakannya. Sebab tanpa perenungan sangat sulit meresapi bait puisi ini.
"Puisinya berjudul 'Keluhan'. Tuhan, saya sangat sibuk sekali," ucap Gus Mus singkat dan langsung salam mengakhiri sambutan.
Pengunjung pun tertawa lepas karena tidak menduga puisinya sependek itu. Selamat berharlah ke 70 tahun Gus Mus, semoga selalu diberi kesehatan, keselamatan, dan keberkahan serta panjang umur. Amiin. (Qomarul Adib/Mahbib)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua