Nasional

Semarak Pesantren Al-Falah Ploso Menyambut Munas dan Konbes NU 2026

NU Online  ·  Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:00 WIB

Semarak Pesantren Al-Falah Ploso Menyambut Munas dan Konbes NU 2026

Festival Seni Hadrah turut memeriahkan Munas dan Konbes NU 2026 di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Jumat (19/6/2026). (Foto: NU Online/Patoni) 

Kediri, NU Online

Tenda-tenda yang dibalut warna putih dan hijau membentang rapi di sepanjang jalan utama Pondok Induk Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, Jawa Timur. Berjejer tanpa putus, tenda-tenda tersebut menjadi gerbang penyambutan bagi lebih dari 500 peserta Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 yang datang dari berbagai penjuru Indonesia. Di bawah naungan tenda tersebut, para santri, pedagang, panitia, relawan keamanan, dan tamu bercampur dalam satu denyut kehidupan khas pesantren: hangat, ramai, dan penuh kegembiraan.

 

Di sisi kanan dan kiri jalan, puluhan stan bazar UMKM berdiri memamerkan beragam produk. Mulai dari makanan tradisional, busana muslim, kerajinan tangan, hingga produk-produk kreatif lainnya.

 

Keramaian bazar seolah menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan banyak kalangan. Para santri dan pengunjung tampak antusias mengelilingi stan demi stan, sementara para peserta Munas yang beberapa sudah datang memanfaatkan kesempatan itu.


Seorang warga NU asal Surabaya bernama Wardi Joko Nugroho yang sedang berkeliling arena merasakan atmosfer kuat menjelang pembukaan Munas dan Konbes NU 2026. Ia terkesan dengan kemeriahaan bazar UMKM dan lainnya.


"Saya tadi mengunjungi stan bazar UMKM, ramai banget," kata Wardi yang aktif di Lesbumi PWNU Jawa Timur itu ditemui di arena lokasi Munas dan Konbes NU 2026 di Pesantren Al-Falah Ploso Kediri, Jumat (19/6/2026) malam.

 

Dia berharap kegiatan Munas dan Konbes NU 2026 menghadirkan kegembiraan serta menghasilkan keputusan-keputusan terbaik bagi warga NU dan bangsa Indonesia.


"Saya berharap yang terbaik dari Munas ini mengingat banyak masalah yang menimpa NU dan pesantren," ungkapnya.

 

Sebelum berpisah, Wardi meminta tolong NU Online untuk memfoto dirinya di stan lokasi foto di pintu masuk pembukaan Munas. Wardi menjelaskan bahwa dirinya ditugaskan PWNU Jawa Timur untuk mengecek lokasi.


Dia memberi masukan kepada panitia, terutama pihak keamanan dan bagian transportasi agar benar-benar memberikan informasi terkait kantong-kantong parkir.


"Informasi kantong parkir penting mengingat pada hari pembukaan lokasi pasti dipadati peserta dan pengunjung. Kalau informasi kurang jelas bisa kacau," ujar Wardi.


Sementara itu, tak jauh dari area bazar, dentuman rebana dan lantunan shalawat menggema dari berbagai penjuru karena sound system ditempatkan di sepanjang tenda atau jalan utama pondok. Ratusan nggota Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) tampil bergantian. Irama tabuhan yang kompak disertai lantunan pujian kepada Nabi Muhammad saw membuat suasana terasa hidup di tengah malam yang semakin larut.

 

Kegiatan festival Ishari yang juga sebagai tanda dimulainya Haul Akbar Masyayikh Pesantren Al-Falah Ploso ini langsung dihadiri dan disambut Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan sesepuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso KH Nurul Huda Djazuli.


Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengatakan bahwa inti dari seluruh khidmat, terutama bagi warga NU generasi saat ini, adalah bertabaruk (mengharap keberkahan) kepada para masyayikh.


“Inti dari segala khidmat kita, terutama NU dari generasi kita ini di zaman ini, adalah tabarukkan. Syaikhona KH Maimoen Zubair mengatakan kepada saya bahwa awake dewe iki ora maqam gawe amal dewek (Kita ini tidak berada pada tingkat (maqam) untuk membuat atau menciptakan amal sendiri),” ujar Gus Yahya.


Menurutnya, generasi saat ini tidak berada pada maqam untuk menciptakan amal sendiri, melainkan memperoleh bagian dengan tabarukk kepada amal-amal para masyayikh dan para sesepuh.


“Jatahe awake dewek namung tabaruk marang amal-amale para masyayikh pinisepuh. (Bagian kita hanyalah mengambil keberkahan dari amal-amal para masyayikh dan para sesepuh). Kita tidak punya maqam untuk menciptakan amal sendiri, jatah kita hanya bertabaruk,” ujar Gus Yahya.


Walaupun malam semakin larut, santri dan pengunjung terus memenuhi jalanan pondok. Sebagian berdiri menyaksikan, sebagian lainnya turut bershalawat. Festival seni hadrah menunjukkan bahwa Munas bukan sekadar forum musyawarah ulama, tetapi juga perayaan budaya dan tradisi Islam Nusantara yang tumbuh di lingkungan pesantren lewat seni hadrah.

 

Meski dipadati ribuan orang, suasana tetap terasa tertib. Para santri yang bertugas sebagai relawan sigap membantu tamu dan pengunjung yang membutuhkan segala informasi terkait Munas dan Konbes NU.


​​​​​​​Munas dan Konbes NU 2026 berlangsung pada Sabtu-Senin (20-22 Juni 2026). Forum musyawarah tertinggi kedua di lingkungan Nahdlatul Ulama ini membahas sejumlah isu penting. Isu-isu tersebut di antaranya kedaulatan data pribadi, nilai manfaat dana haji, RUU Sisdiknas, otoritas keagamaan dalam ruang kekuasaan, serta materi lainnya. Termasuk memutuskan tanggal dan lokasi Muktamar Ke-35 NU.


​​​​​​​Munas dan Konbes NU 2026 dibagi ke beberapa komisi yaitu Komisi Bahtsul Masail yang terdiri dari Bahtsul Masail Waqi'iyah, Maudhuiyah, dan Qonuniyah, serta Komisi Organisasi, Komisi Program, dan Komisi Rekomendasi. Sidang-sidang komisi ditempatkan di sejumlah lokasi di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang