Ketum PBNU Gus Yahya Apresiasi Husnuzan Rakyat Aceh Hadapi Rentetan Musibah
NU Online · Selasa, 17 Februari 2026 | 23:45 WIB
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf saat menghadiri Konferwil XV PWNU Aceh, Ahad (15/2/2026). (Foto: istimewa)
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Banda Aceh, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) mengapresiasi sikap husnuzan masyarakat Aceh dalam menghadapi berbagai musibah yang menimpa daerah tersebut sejak masa pra-kemerdekaan hingga saat ini.
Apresiasi itu disampaikan saat pembukaan Konferwil XV Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Aceh di Aula MPU Aceh, Ahad (15/2/2026).
Dalam sambutannya, Gus Yahya menegaskan bahwa Aceh merupakan daerah yang memiliki sejarah panjang ujian dan cobaan. Mulai dari konflik bersenjata, bencana alam besar, hingga tantangan sosial dan ekonomi, seluruhnya telah dilalui rakyat Aceh dengan keteguhan iman.
“Aceh merupakan daerah yang sudah lama ditempa oleh musibah dan peristiwa besar. Tetapi masyarakatnya tetap tegar dan menjaga keimanan,” ujar Gus Yahya di hadapan para ulama, pengurus wilayah dan cabang NU, serta tokoh masyarakat.
Menurutnya, berbagai musibah yang datang bukan sekadar peristiwa sosial atau alamiah, melainkan bagian dari sunnatullah—cara Allah swt menguji hamba-Nya. Karena itu, sikap yang paling utama adalah husnuzan kepada Allah, yakni berprasangka baik atas setiap ketentuan-Nya.
Ia menilai, sikap husnuzan itulah yang menjadi kekuatan moral rakyat Aceh selama ini. Dalam banyak peristiwa besar, masyarakat Aceh tidak larut dalam keputusasaan, tetapi bangkit dengan semangat religius dan solidaritas sosial yang kuat.
“Musibah yang menimpa rakyat Aceh harus disikapi dengan husnuzan kepada Allah swt. Itulah yang membuat Aceh tetap berdiri kokoh,” tegasnya.
Gus Yahya juga mengingatkan pesan Hadratusyekh Hasyim Asy'ari bahwa musibah dan fitnah merupakan ujian untuk melihat siapa yang benar dalam pengakuan imannya. Dalam konteks Aceh, ujian sejarah yang panjang telah membentuk karakter masyarakat yang tangguh secara spiritual.
Ia menyebut, ketangguhan rakyat Aceh bukan hanya tampak dalam daya tahan sosial, tetapi juga dalam konsistensi menjaga nilai-nilai agama. Tradisi dayah, penghormatan kepada ulama, serta semangat kebersamaan menjadi fondasi kuat dalam menghadapi berbagai cobaan.
Baca Juga
Akhlak kepada Lingkungan
“Segala peristiwa besar sudah dilalui Aceh. Saya kira masyarakat Aceh tidak lagi mudah terkejut oleh keadaan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya juga menyampaikan penghargaan atas peran NU Aceh yang terus mendampingi masyarakat di tengah berbagai kondisi. Ia menilai, kehadiran jam’iyah di tengah rakyat menjadi penguat spiritual sekaligus sosial.
Namun demikian, ia mengingatkan agar husnuzan tidak hanya ditujukan kepada Allah, tetapi juga kepada sesama dan kepada organisasi. Dinamika dalam kehidupan bermasyarakat dan berorganisasi adalah sesuatu yang wajar, sehingga harus disikapi dengan kedewasaan.
“Kita harus menjaga husnuzan, baik kepada Allah maupun kepada jamiyah. Dengan husnuzan, kita akan menjaga persatuan dan keberkahan,” katanya.
Gus Yahya menambahkan, masyarakat Aceh memiliki keistimewaan karena telah melewati fase-fase sejarah yang berat. Pengalaman panjang itu menjadi modal sosial yang sangat berharga dalam menghadapi tantangan global saat ini.
Ia berharap, sikap husnuzan yang telah menjadi karakter rakyat Aceh dapat terus dipertahankan. Menurutnya, sikap tersebut bukan hanya mencerminkan kedalaman iman, tetapi juga menjadi sumber kekuatan kolektif dalam membangun masa depan.
“Aceh telah membuktikan bahwa dengan iman dan prasangka baik kepada Allah, masyarakat mampu bangkit dari berbagai ujian,” ujarnya.
Konferwil XV PWNU Aceh pun menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang daerah tersebut. Di tengah tantangan yang masih ada, apresiasi terhadap rakyat Aceh menjadi penegasan bahwa keteguhan iman dan husnuzan adalah fondasi utama dalam menghadapi musibah.
Dengan sikap itu, Gus Yahya optimistis Aceh akan terus melangkah maju tanpa kehilangan jati diri religiusnya, sekaligus tetap kokoh dalam bingkai persaudaraan dan keberkahan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan dan Kesempatan yang Tidak Selalu Terulang
2
Innalillah, Ulama Mazhab Syafii asal Suriah Syekh Hasan Hitou Wafat dalam Usia 83 Tahun
3
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
4
Kultum Ramadhan: Lebih Baik Sedikit tapi Istiqamah
5
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
6
Keluar Mani yang Tidak dan Membatalkan Puasa
Terkini
Lihat Semua