Nasional

Kiai Anwar Manshur Ajak Generasi Muda Gigih dalam Menuntut Ilmu

NU Online  ·  Kamis, 5 Maret 2026 | 21:00 WIB

Kiai Anwar Manshur Ajak Generasi Muda Gigih dalam Menuntut Ilmu

KH Anwar Manshur. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Anwar Manshur mengajak generasi muda untuk gigih dalam menuntut ilmu. Ia menyoroti kecenderungan Sebagian anak muda ang terjebak pada dangkalnya minat baca dan riset di tengah kemudahan akses informasi saat ini.


Kiai Anwar menegaskan bahwa ilmu bukanlah komoditas instan yang dapat diperoleh hanya dengan sekali klik. Menurutnya, kedalaman ilmu menuntut proses panjang, kesabaran, dan kedisiplinan.


Ia menjelaskan bahwa kedalaman fiqih Imam Abu Hanifah, tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kedisiplinan berdiskusi di sela-sela kesibukannya berdagang.


“Banyak penuntut ilmu zaman sekarang yang ingin cepat sampai pada tujuan tanpa mau melewati proses yang terjal. Padahal, Imam Abu Hanifah itu menjadi faqih karena ia tidak pernah melepaskan diri dari diskusi ilmiah, bahkan saat ia berada di tokonya,” ujarnya dalam pengajian Ramadhan Kitab Ta’limul Muta’alim yang tayang di kanal Youtube Lirboyo, diakses pada Kamis (5/3/2026).


Kiai Anwar menambahkan, kecerdasan intelektual semata tidak cukup tanpa adanya lisanun sa’ul (lidah yang gemar bertanya) dan qalbunaqul (hati yang terus berpikir). Di era informasi, banyak orang memiliki akses terhadap jawaban, tetapi kehilangan daya kritis untuk mengajukan pertanyaan yang mendalam.


“Ilmu itu hanya bisa didapat dengan lidah yang banyak bertanya dan hati yang cerdas dalam merenung. Jika kalian hanya diam dan menerima tanpa ada usaha untuk menggali lebih dalam, maka ilmu itu hanya akan mampir di telinga, bukan menetap di jiwa,” katanya.


Lebih lanjut, Kiai Anwar menyoroti kecemasan ekonomi yang kerap memadamkan semangat belajar. Ia menilai, ujian terbesar seorang penuntut ilmu adalah menjaga keseimbangan antara tawakal dan ikhtiar, tanpa menjadikan alasan ekonomi sebagai pembenar untuk meninggalkan proses belajar.


“Seringkali orang meninggalkan ngaji karena alasan mencari nafkah, padahal Allah sudah menjamin rezeki bagi mereka yang bersungguh-sungguh dalam agama. Jangan sampai rasa takut akan kemiskinan membuat kalian menjadi bakhil terhadap waktu untuk ilmu,” tegasnya.


Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur tersebut menyampaikan bahwa setiap kepayahan dalam belajar memiliki nilai tebusan yang tinggi di sisi Allah. Kelelahan dan pengorbanan bukanlah kerugian, melainkan investasi spiritual yang menentukan kemuliaan seseorang.


“Ganjaran (pahala) itu datang seiring dengan kadar kelelahan. Jangan harap mendapatkan kemuliaan ilmu jika kalian masih memanjakan tubuh dengan tidur yang berlebihan dan kenyamanan yang menipu,” ucap Kiai Anwar.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang