Kiai ini Pasang Logo NU di Rumahnya sebagai Penangkal HTI
NU Online · Rabu, 11 Maret 2015 | 05:35 WIB
Awalnya ia merasa biasa saja menerima tamu dan berbincang mengenai banyak hal, terutama tentang dakwah. Kiai muda ini gampang bergaul dengan siapa saja. Namun seorang tamu istimewa terus datang dan datang lagi membujuknya bergabung dengan organisasi HTI. Kiai muda itu akhirnya memasang logo NU berukuran besar di atas pintu rumahnya, dan tamu itu tak berani datang lagi.<>
Kiai muda itu adalah KH M. Salmanuddin, pengasuh Pondok Pesantren Babus Salam, Jatibening Mojoagung Jombang. Pekan lalu pesantrennya mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Uama (PKPNU) yang dihadiri oleh para instruktur dari PBNU Jakarta dan diikuti oleh para kader NU dari luar daerah Jombang.
Ada 574 santri yang belajar di pesantren Babus Salam. Sebagian di antaranya dibiayai secara penuh oleh pihak pesantren dan beberapa orang tua asuh.
Dari penampilannya, KH M. Salmanuddin atau Gus Salman sepertinya masih berusia 40-an. Namun ia cukup sukses dalam dunia usaha. Selain mengasuh pesantren, ia juga mengembangkan Baitul Maal Wal Tamwil (BMT) yang bergerak di bidang permodalan. Omsetnya sekitar empat miliar rupiah. Ia juga mengembangkan bisnis travel.
Gus Salman juga mendapatkan amanah untuk memimpin Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Kabupaten Jombang, sehingga ia cukup menarik perhatian seorang tamu istimewa.
Tamu istimewa itu bernama Abdurrahman. Ia berasal dari Dawar Mojokerto. Gus Salman memanggilnya Durrohman, seperti orang Jombang Kebanyakan. Mereka pernah berkawan saat belajar di Institut Keislaman Hasyim Asy'ari (IKAHA) Jombang.
Mereka lama tidak bertemu. Konon Durrohman kini juga menjadi seorang pengusaha sedot WC yang lumayan sukses, dan satu lagi ia menjadi seorang aktivis Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Durrohman mencoba membujuk Gus Salman untuk bergabung dengan HTI, meskipun ia tahu yang diajaknya itu adalah orang NU yang tidak mungkin setuju dengan ide khilafah yang diusung orang HTI. Bagi orang NU, Pancasila dan NKRI itu sudah harga mati.
“Namanya juga teman, ya saya biasa saja. Tapi lama-lama kok datang terus dia ke rumah,” kata Gus Salman, Jum’at (6/3), di sela kegiatan PKPNU.
“Saya sudah bilang kalau saya orang NU, tapi dia terus berusaha. Kegigihan orang HTI memang pantas diacungi jempol,” katanya. Durrohman juga menawarinya fasilitas dan jabatan sebagai tokoh HTI. “Saya tidak tahu jabatannya apa di HTI, tapi sepertinya dia koordinator bagian Jombang,” tambahnya.
Aktivis HTI itu tidak hanya datang. Ia juga berkali-kali menghubunginya lewat telepon. Ia memberikan buku-buku gratis. Ia juga sering ikut pengajian NU di beberapa tempat. “Ia juga membawa laptop dan LCD sebagai perbekalan,” kata Gus Salman.
Durrohman terus membujuk dengan berbagai cara. Ia terus datang ke rumah. Gus Salman kehabisan cara. Muncullah ide memasang logo NU besar-besar di pintu rumahnya.
Suatu ketika Durrohman datang lagi ke rumah. Sebelum masuk, Gus Salman langsung menunjukk logo NU di depan pintunya. “Itu lihat, rumah saya saja NU, apa lagi orangnya!” katanya dengan suara keras. Semenjak itu, orang HTI tidak pernah datang lagi. (A. Khoirul Anam)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
5
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua