Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menjelaskan bahwa orang yang selalu memberikan komentar atas semua pertanyaan justru bisa menjadi tanda bahwa ia tidak benar-benar memahami suatu ilmu secara mendalam.
Gus Mus menyinggung fenomena orang yang merasa mampu menjawab berbagai persoalan, mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya hingga agama.
“Kalau ada orang ditanya apa saja selalu menjawab—ditanya politik jawab, ekonomi jawab, budaya jawab, agama jawab—itu justru tanda kebodohan,” ujar Gus Mus dalam pengajian Kitab Al Hikam karya Imam Ibnu Athaillah yang tayang pada kanal YouTube NU Online, Jumat (6/3/2026).
Gus Mus menjelaskan bahwa ilmu yang dimiliki manusia pada hakikatnya terbatas. Allah membagi pengetahuan kepada para hamba-Nya dalam berbagai bidang keahlian. Karena itu, tidak mungkin seseorang benar-benar menguasai seluruh cabang ilmu sekaligus.
Menurutnya, ada orang yang memang ahli di bidang ekonomi, ada yang mendalami politik, ada pula yang fokus pada ilmu agama. Pembagian keahlian itu merupakan bagian dari hikmah Allah dalam mengatur kehidupan manusia.
Baca Juga
Andai Orang Bodoh Mau Berhenti Komentar
“Ilmu Allah itu sangat luas dan dibagikan kepada hamba-hamba-Nya. Ada yang ahli ekonomi, ahli budaya, ahli politik, ahli agama. Jangan semuanya diakui sendiri,” jelasnya.
Pengasuh Pengasuh Pondok Raudlatut Thalibin Rembang Jawa Tengah itu mengungkapkan fenomena orang yang merasa mampu menjawab segala persoalan juga sering terlihat pada figur publik yang kerap muncul di media. Mereka kerap dimintai komentar tentang berbagai isu, meskipun tidak semuanya berada dalam bidang keahlian mereka.
Padahal menurut Gus Mus, jika seseorang mampu menjawab semua pertanyaan tanpa batas keilmuan yang jelas, hal itu justru menunjukkan bahwa ia tidak memahami kedalaman ilmu tersebut.
“Menurut para ulama, orang yang bisa menjawab semua hal itu justru tanda bodoh. Karena kalau benar-benar berilmu, ia tahu batas pengetahuannya,” katanya.
Dalam pengajian yang sama, Gus Mus juga menjelaskan bahwa Allah menjadikan akhirat sebagai tempat pembalasan bagi amal manusia.
Ia menuturkan bahwa pahala yang diberikan Allah kepada orang beriman sangat besar sehingga dunia tidak cukup untuk menampungnya. Karena itu, Allah menyiapkan akhirat sebagai tempat pembalasan yang lebih luas dan abadi.
“Ganjaran Allah itu besar sekali. Dunia ini tidak cukup menampung balasan bagi amal orang mukmin. Karena itu Allah menjadikannya di akhirat,” jelasnya.
Selain karena keterbatasan dunia, alasan lain adalah karena Allah ingin memuliakan derajat orang-orang beriman dengan memberikan balasan di tempat yang kekal.
Dunia bersifat sementara, sedangkan akhirat bersifat abadi. Oleh karena itu, pahala atas amal kebaikan manusia akan diberikan secara sempurna di kehidupan akhirat.
Meski demikian, Gus Mus menyebut bahwa terkadang seseorang bisa merasakan buah amalnya lebih cepat di dunia. Hal itu bisa menjadi tanda bahwa amal tersebut diterima oleh Allah.
“Kalau seseorang berbuat baik lalu tiba-tiba mendapat balasan kebaikan di dunia, itu bisa menjadi tanda bahwa amalnya diterima oleh Allah,” tuturnya.
Namun ia menegaskan bahwa balasan utama tetap disiapkan Allah di akhirat. Sebab, di sanalah, tempat yang paling layak untuk memberikan ganjaran bagi amal manusia.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Nuzulul Qur’an dan Spirit Membaca untuk Peradaban
2
Khubah Jumat: Separuh Ramadhan Telah Berlalu, Saatnya Muhasabah Diri
3
Mulai Malam Ini, Dianjurkan Baca Qunut pada Rakaat Terakhir Shalat Witir
4
Khutbah Jumat: Refleksi Puasa, Sudahkah Meningkatkan Kepedulian Sosial?
5
Pesan-Pesan dan Sisi Lain Sang Rahbar Ali Khamenei
6
Antrean BBM Mengular di Medan, Harga Naik dan Stok Langka
Terkini
Lihat Semua