Kurikulum 2013 Dinilai Sesuai dengan Model Pendidikan Pesantren
NU Online · Senin, 22 Desember 2014 | 02:30 WIB
Kendal, NU Online
Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma'arif NU memantapkan diri untuk terus melaksanakan Kurikulum 2013. Ketua PP LP Ma’arif H Arifin Junaidi mengatakan, kurikulum 2013 mencerminkan "khittah" dan sesuai dengan model pendidikan pesantren.<>
Hal tersebut disampaikan Arifin Junaidi saat memberi pengarahan kepada peserta Muskercab NU II Kendal di gedung NU Kendal Jalan Raya Sukarno-Hatta 299 Kendal, Ahad (21/12)
Dijelaskan oleh Sekjen PBNU era KH Abdurrahman Wahid itu bahwa bangsa Indonesia sebelum penjajahan Belanda datang sebenarnya sudah mempunyai model pendidikan pribumi yang kemudian berkembang menjadi model pendidikan pesantren. Namun setelah penjajah datang, Belanda kemudian mengadopsi pendidikan model barat. Padahal kepentingan Belanda sebenarnya untuk memenuhi kebutuhan anak orang Belanda agar tidak perlu mengirim anaknya sekolah ke negeri asalnya.
Ironisnya setelah Indonesia merdeka pendidikan kita masih tetap mengadopsi model pendidikan barat sampai era reformasi berjalan. “Hasil bisa kita lihat sendiri, ahklaq generasi muda hancur. Lahirnya kurikulum 2013 sebenarnya upaya mengembalikan model pendidikan kita kepada model pendidikan pribumi atau pesantren yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang mengutamakan pembentukan karakter anak didik,” katanya.
Diakuinya kelemahan kurikulum 2013 terletak pada system penilaian yang agak rumit sehingga sebagian kalangan pendidik mengatakan kurikulum 2013 adalah kurikulum yang ribet.
Dikatakannya, sisi kebaikan dari kurikulum 2013 adalah tidak adanya pemisahan lagi antara kemampuan afektif, psikomorik maupun cognitif, sebab semuannya sudah menjadi satu kesatuan utuh.
Karena itu LP Ma'arif akan terus melaksanakan kurikulum 2013 di sekolah dan madrasah di lingukungan lembaga pendidikan NU. Ini ditujukan bagi lembaga pendidikan yang sudah siap menjalankannya. "Bagi yang belum siap harus disiapkan karena tahun 2019 harus sudah diterapkan," pungkas Arifin yang asli kelahiran Kendal itu.(Fahroji/Anam)
Terpopuler
1
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
2
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
5
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua