Nasional

LF PBNU: Awal Jumadal Ula 1448 H Jatuh Esok

NU Online  ·  Ahad, 11 Oktober 2026 | 19:45 WIB

LF PBNU: Awal Jumadal Ula 1448 H Jatuh Esok

Ilustrasi Jumadal Ula. (Foto: istimewa)

Jakarta, NU Online 

 

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) mengumumkan bahwa awal bulan Jumadal Ula 1448 H jatuh pada Senin, 12 Oktober 2026 M.

 

"Awal bulan Jumadal Ula 1448 H bertepatan dengan Senin Pahing 12 Oktober 2026 M (mulai malam Senin) atas dasar rukyah," sebagaimana tertulis dalam Pengumuman Nomor 163/PB.08/A.II.11.13/13/10/2026 yang dikeluarkan pada Ahad (11/10/2026).

 

Keputusan didasarkan pada rukyatul hilal yang berhasil melihat hilal 1 Jumadal Ula 1448 H pada Ahad, 29 Rabiul Akhir 1448 H bertepatan 11 Oktober 2026 M.

 

"Telah dilaporkan penyelenggaraan rukyatul hilal pada Ahad Legi 29 Rabľ'ul Akhir 1448 H / 11 Oktober 2026 M. Laporan lokasi yang menyelenggarakan rukyatul hilal terlampir. Terdapat beberapa lokasi yang melihat hilal," tulis pengumuman itu.

 

LF PBNU Mengucapkan terima kasih atas kontribusi dan partisipasi Nahdliyin dalam rukyatul hilal ini.

 

Pihaknya juga meminta seluruh jajaran Lembaga Falakiyah PWNU dan PCNU se-Indonesia untuk menyampaikan ikhbar ini. 

 

"Diharapkan bertindak aktif untuk menyebarluaskan pengumuman awal bulan Jumadal Ula 1448 H ini kepada warga Nahdlatul Ulama, khususnya jajaran pengurus di wilayah / cabangnya masing–masing," lanjut pengumuman tersebut.

 

Sebagai informasi, tinggi hilal akhir Rabiul Akhir 1448 H atau bertepatan dengan Ahad Legi, 11 Oktober 2026 M adalah 6 derajat 23 menit 51 detik dengan elongasi 10 derajat 29 menit 55 detik dan lama hilal di atas ufuk 26 Menit 29 detik. Sementara ijtima (konjungsi) terjadi pada Sabtu Kliwon, 10 Oktober 2026 pukul 22:47:01 WIB.

 

Adapun letak Matahari terbenam 7 derajat 02 menit 29 detik selatan titik barat, sedangkan letak hilal berada pada posisi 14 derajat 05 menit 08 detik selatan titik barat. Sementara kedudukan hilal 7 derajat 2 menit 39 detik selatan Matahari dan keadaan hilal miring ke selatan.

 

Data di atas menunjukkan hilal sudah berada di atas ufuk dan sudah memenuhi kriteria imkanurrukyah. Pasalnya, tinggi hilal sudah melebihi 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat.

 

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis data perhitungan hilal 1 Jumadal Ula 1448 H dalam Informasi Prakiraan Hilal Saat Matahari Terbenam Tanggal 11 Oktober 2026 M (Penentu Awal Bulan Jumadal Ula 1448 H).

 

Dalam informasi itu, dijelaskan bahwa konjungsi terjadi pada hari Sabtu, 10 Oktober 2026 M, pukul 15.49.55 UT atau Sabtu, 10 Oktober 2026 M, pukul 22.49.55 WIB atau Sabtu, 10 Oktober 2026 M, pukul 23.49.55 WITA atau Ahad, 11 Oktober 2026 M, pukul 00.49.55 WIT, yaitu saat nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 197.36 derajat.

 

Di wilayah Indonesia, pada tanggal 11 Oktober 2026, waktu Matahari terbenam paling awal adalah pukul 17.28.35 WIT di Waris, Papua dan waktu Matahari terbenam paling akhir adalah pukul 18.26.4 WIB di Banda Aceh, Aceh. 

 

Adapun ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 11 Oktober 2026, berkisar antara 4.28 derajat di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 6.31 derajat di Parigi, Jawa Barat.

 

Sementara itu, besaran elongasi geosentris di Indonesia saat Matahari terbenam pada 11 Oktober 2026, berkisar antara 9.33 derajat di Waris, Papua sampai dengan 10.68 derajat di Banda Aceh, Aceh.

 

Data BMKG juga menunjukkan umur Bulan di Indonesia saat Matahari terbenam pada 11 Oktober 2026, berkisar antara 16.64 jam di Waris, Papua sampai dengan 19.6 jam di Banda Aceh, Aceh.

 

Adapun peta lama hilal di atas ufuk di Indonesia saat Matahari terbenam pada 11 Oktober 2026, berkisar antara 21.05 menit di Melonguane, Sulawesi Utara sampai dengan 30.17 menit di Parigi, Jawa Barat.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang