Mbah Dim: Politik Warga NU Harus Mengacu pada Aqidah NU
NU Online · Jumat, 18 April 2014 | 03:37 WIB
Jakarta, NU Online
Mustasayar PBNU KH Dimyati Rois yang lazim disapa Mbah Dim mengkhawatirkan arah politik warga NU. Menurutnya, perihal cara dan cita-cita politik warga NU harus melihat kembali pedoman dasar akidah dan nilai-nilai aswaja NU.
<>
Ia mengutip kitab Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali, “Wa qalal ulama, bukan ba’dlhul ulama, siyasatul ummah mabniyyatun ala aqidatiha. Kata ulama, politik sebuah umat harus didasarkan pada akidahnya.”
Kalau akidah umat itu Syiah, maka penerapan politik mereka tentu Syiah. Demikian juga dengan kelompok Khawarij, kata Mbah Dim dalam rapat Syuriyah dan Mustasyar PBNU di kantor Kramat Raya nomor 164, Rabu (16/4) sore.
“Wa in kanat aqidatuhum Nahdlatal Ulama, fasiyasatuhum Nahdlatul Ulama (Kalau aqidahnya NU, maka mereka mesti melihat kembali pakem-pakem NU dalam berpolitik),” terang Mbah Dim, mengingatkan warga NU untuk kembali pada keterangan ulama aswaja dalam pelbagai kitabnya.
Ia menyayangkan warga NU yang berkiprah di partai-partai berpaham Wahabi. “Fa in kanat aqidatuhum wahabiyatan, fa siyasatuhum wahabi. Tetapi kadang ada warga NU dengan aqidah NU tetapi politiknya bukan NU.”
Orang NU memang boleh saja masuk ke dalam partai di luar aswaja NU dengan catatan tidak kelihatan oleh warga NU lainnya dan oleh partai yang dimasukinya. Persis seperti Syekh Abu Yazid Al-Basthomi yang mengislamkan 20.000 umat Nashrani dalam tempo 15 menit lewat dialog politik di gereja Beirut, cerita Mbah Dim.
“Pendeknya, orang NU yang mau berkiprah di partai Wahabi harus ahli karomah seperti Syekh Abu Yazid agar dapat menarik mereka justru ke dalam NU,” imbuh Mbah Dim.
Ia juga menerangkan posisi politik dalam konteks hukum syariah. Menurutnya, politik bagi warga NU, terang Mbah Dim yang mengutip pandangan Imam Al-Mawardi, merupakan “Istishlahun nas ila thariqil munji dunya wa ukhra. Yang dinamai politik ialah usaha-usaha perbaikan manusia yang menyelamatkan manusia di dunia dan di akhirat.”
Politik itu pada dasarnya baik. Ia bagian dari syariah. Ulama kita mengatakan, hukum politik adalah fardlu kifayah. “Tetapi, jangan sampai warga NU salah wadah mengingat politik memiliki cara dan tujuan yang demikian mulia bagi para ulama kita,” tandas Mbah Dim. (Alhafiz K)
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
KH Miftachul Akhyar Resmi Terpilih Menjadi Rais Aam PBNU Masa Khidmah 2026–2031
3
AHWA Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026-2031
4
Terpilih, Ini Profil 9 Anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU
5
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
6
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
Terkini
Lihat Semua