Jakarta, NU Online
NU Care-LAZISNU turut memeriahkan peringatan hari lahir (harlah) kelima Pondok Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kegiatan diisi dengan pemberian santunan kepada seratus yatim dan dhuafa, Jumat (27/7).
Santunan berupa paket Sembako itu diserahkan langsung oleh pengasuh pesantren, KH Said Aqil Siroj, yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.
“Semoga manfaat, berkah. Ini dari lembaga zakatnya NU. Dari LAZISNU. Mohon doakan, ya. Doakan saya juga semoga sehat terus,” ucap kiai asal Cirebon itu, kepada penerima santunan.
“Santunan merupakan realisasi program ekonomi NU Care-LAZISNU berkat sinergi dengan PT Bintang Beton serta NU Care-LAZISNU Cabang Belanda,” kata Manajer Program NU Care-LAZISNU Pusat (Jakarta), Slamet Tuharie.
“Ini sebagai realisasi dari program ekonomi yang menjadi bagian dari empat pilar program NU Care-LAZISNU di luar program pendidikan, kesehatan dan siaga bencana,” katanya. Santunan ini sebagai bentuk sinergi dengan PT Bintang Beton yang menjadi donatur tetap NU Care-LAZISNU Jakarta. Juga merupakan penyaluran dana fidyah yang dihimpun oleh NU Care-LAZISNU Cabang Belanda, lanjutnya.
Sementara, ketua panitia harlah Pesantren Luhur Al-Tsaqafah, Najib Zamzami menyampaikan, penerima santunan adalah warga sekitar pesantren yang memang harus dibantu.
“Ya, jadi memang banyak warga di sini yang harus dibantu. Karena itu, kami mengagendakan kegiatan santunan bersama LAZISNU sebagai bakti sosial pesantren kepada warga sekitar,” ungkap Najib.
Najib juga menuturkan, santunan tersebut bagian dari serangkaian acara harlah Pesantren Al-Tsaqafah, yang puncaknya digelar pada Jumat malam.
“Puncak harlahnya malam ini, diisi dengan pengajian umum dari Buya Said,” jelasnya.
Pesantren yang berdiri pada 28 Juli 2013 itu, menampung sejumlah santri dari berbagai daerah seperti Timika Papua, NTT, NTB, Kalimantan, Sumatera, dan Jabodetabek.
“Saat ini ada 354 santriwan dan santriwati, mulai tingkat tsanawiyah dan aliyah. Mereka (santri) masuk dengan seleksi,” pungkas Najib selaku sekretaris pesantren. (Wahyu Noerhadi/Ibnu Nawawi)