Pakar UGM: Teknologi Jadi Kebutuhan Mendesak bagi Petani Hadapi Kemarau Panjang
NU Online · Senin, 20 Juli 2026 | 12:30 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kemarau panjang yang dipicu perubahan iklim semakin menempatkan sektor pertanian pada posisi rentan. Kondisi tersebut tidak hanya mengancam produktivitas lahan, tetapi juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan serta memengaruhi stabilitas harga komoditas.
Pakar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Bayu Dwi Apri Nugroho, menegaskan bahwa iklim memiliki peran yang sangat menentukan terhadap keberhasilan sektor pertanian.
Menurut Bayu, hampir seluruh aktivitas pertanian, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia, sangat bergantung pada kondisi iklim setempat.
"Iklim ini bisa menjadi penentu keberhasilan maupun kegagalan suatu produk pertanian, yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap stabilitas harga di suatu negara," ujarnya dalam Webinar Kesiapsiagaan Dampak El Nino: Memperkuat Ketahanan Kesehatan, Pangan, dan Masyarakat Indonesia, Sabtu (18/7/2026).
Ia mengungkapkan bahwa perubahan iklim secara global telah meningkatkan ketidakpastian cuaca. Karena itu, petani tidak lagi cukup mengandalkan pengalaman atau pola musim seperti pada masa lalu. Dibutuhkan kemampuan membaca perubahan cuaca secara lebih akurat agar keputusan budidaya dapat dilakukan secara tepat.
Bayu menilai pemanfaatan teknologi perlu diperkuat hingga tingkat lokal. Menurutnya, meskipun perubahan iklim merupakan fenomena global, dampaknya akan berbeda-beda di setiap daerah sehingga pemahaman terhadap kondisi cuaca lokal menjadi sangat penting.
"Walaupun perubahan iklim terjadi secara global, efeknya perlu dipahami berdasarkan kondisi cuaca di daerah setempat. Karena itu, diperlukan pemahaman terhadap perubahan cuaca secara lokal melalui teknologi maupun pengamatan manual," katanya.
Ia juga menyoroti hubungan antara pemanasan global dengan meningkatnya intensitas fenomena El Niño dan La Niña. Bayu mengatakan, sejumlah penelitian menunjukkan siklus kedua fenomena tersebut kini terjadi lebih sering seiring meningkatnya suhu permukaan bumi.
"National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) juga mencatat bahwa kenaikan suhu global meningkatkan penguapan dari permukaan tanah, menambah kelembapan udara, dan memperbesar intensitas cuaca ekstrem," ucapnya.
Menurutnya, tantangan sektor pertanian tidak berhenti pada persoalan cuaca. Perubahan iklim juga berdampak pada meningkatnya risiko serangan hama dan penyakit tanaman.
Bayu menekankan bahwa peningkatan literasi petani mengenai perubahan iklim sama pentingnya dengan penyediaan teknologi. Sistem monitoring lahan berbasis teknologi, kata dia, dapat membantu petani menghadapi ancaman kekeringan.
"Teknologi sistem monitoring lahan memungkinkan petani menentukan jadwal tanam, menilai kebutuhan air secara real time, memilih jenis tanaman yang paling sesuai, serta mengetahui kondisi tanah untuk menentukan teknik pertanian terbaik," tuturnya.
"Dengan memanfaatkan teknologi, kita berharap petani tidak mengalami gagal panen ataupun gagal tanam pada musim kemarau seperti sekarang," sambungnya.
Terpopuler
1
Sidang Pleno Muktamar NU Sepakati Ketum PBNU Dipilih melalui AHWA
2
KH Miftachul Akhyar Resmi Terpilih Menjadi Rais Aam PBNU Masa Khidmah 2026–2031
3
AHWA Tetapkan Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU Masa Khidmah 2026-2031
4
Terpilih, Ini Profil 9 Anggota AHWA Muktamar Ke-35 NU
5
Gus Yahya Minta Massa Pendukung Gus Yusuf Tenang: Potensi Besar Harus Tetap Diakomodasi untuk NU
6
Bakal Caketum PBNU Gus Kikin: Siapa Pun yang Terpilih Jadi Ketum, NU Harus Tetap Rukun
Terkini
Lihat Semua