Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Slamet Effendy Yusuf mengajak warga NU untuk bermuhasabah (instrospeksi) khususnya dalam menyikapi dan mengambil hikmah dari kasus kekerasan Sunni-Syiah Sampang Madura, baru-baru ini. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dicermati atas peristiwa tersebut.<>
Pertama ketidakpekaan sebagian warga NU (Nahdliyyn) atas penunggangan rasa cinta Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dibelokkan untuk kepentingan lain di luar kepentingan agama itu sendiri.
âItu bisa dilihat bagaimana peran seseorang yang dulunya aktif mendakwahkan paham Syiah, tiba-tiba sebagai orang terdepan mengobarkan semangat anti Syiah, karena motif yang bersifat pribadi. Sehingga apa yang terjadi di Sampang itu memperlihatkan sebagian warga NU telah terbawa hasutan yang salah arah,â ujar Slamet Effendy Yusuf yang juga Ketua MUI Pusat di Jakarta, Jumat (31/8).
Kedua, munculnya perilaku yang tidak sesuai atau bertentangan dengan prinsip-prinsip ke-NU-an. Di mana Khittah Nahdliyah menekankan keharusan untuk menjunjung tinggi sikap kemasyarakatan yang moderat (tawassuth), tidak boleh bersikap ekstrim (tathorruf), keharusan bersikap toleran (tasamuh) atas perbedaan termasuk perbedaan paham keagamaan, keharusan bersikap adil (iâtidal), dan seimbang (tawazzun) untuk membangun keharmonisan sosial.
Karena itu lanjut mantan Ketua Umum PP GP Ansor ini, munculnya sikap intoleran yang disertai kekerasan tersebut jelas tidak sesuai dengan prinsip sosial yang digariskan oleh Khittah Nahdliyyah. Padahal Khittah NU adalah pembimbing bagi perilaku setiap nahdliyin baik dalam konteks keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kemanusiaan.
Ketiga, warga NU perlu introspeksi guna mempertanyakan mengenai apa yang telah dilakukan  sehingga dalam waktu hanya sekitar 5-7 tahun demikian besar warga NU yang mengikuti paham Syiah.Â
âJadi, ada yang terlalaikan. Inilah yang harus menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana memelihara dan membentengi umat dari banyak pengaruh paham lain yang terus brkembang sekarang ini,â tutur Slamet.
Maka, dengan muhasabah tersebut, menurutnya, kasus Sampang tersebut bisa diselesaikan dengan baik. Tidak selalu menyalahkan orang lain, dan hanya menganggap paham sendiri sebagai kebenaran mutlak. Itu bisa dilakukan jika warga kembali kepada misi Islam itu sendiri, yaitu sebagai rahamatan lilalamain. Yaitu rahmat bagi diri sendiri, sesama umat Islam, sesama warga masyarakat, bangsa dan negara.Â
Penulis: Achmad Munif
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
5
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua