PBNU Tekankan Politik Uang Tidak Terulang dalam Pilpres Mendatang
NU Online Ā· Kamis, 1 Mei 2014 | 01:02 WIB
Jakarta, NU Online
Jajaran teras Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyayangkan praktik transaksional dalam aktivitas politik yang terbukti terjadi pada pemilu legislatif awal April lalu. Mereka meminta segenap elemen bangsa untuk memerhatikan rambu moral dan hukum agar lelucon konyol itu tidak terjadi lagi pada pilpres Juli mendatang.
<>
Demikian dikatakan Katib Aam PBNU KH Malik Madani dalam rapat gabungan Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Gedung PBNU jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Rabu (30/4) siang.
Menurut Kiai Malik, PBNU menemukan praktik politik uang pada pileg kemarin. Ia menyayangkan cara kotor demikian. Tidak tanggung-tanggung, praktik cemar ini melibatkan para caleg, tim sukses, warga pemegang hak pilih, bahkan aparat penyelenggara pemilu itu sendiri.
āPraktik itu tidak boleh terulang lagi pada pilpres mendatang,ā tegas Kiai Malik yang membuka rapat gabungan menjelang Munas-Konbes NU 2014 pada pertengahan Juni mendatang.
Cara-cara kotor yang ditempuh pada pileg April kemarin dalam bahasa agama, menurutnya, termasuk salah satu bentuk suap yang disebut (risywah). Suap dalam konteks politik (risywah siyasiyyah) dikecam keras Rasulullah SAW dalam pelbagai sabdanya.
Di hadapan sebanyak 20 peserta rapat gabungan, ia menyebutkan antara lain sebuah hadist berbunyi, Laāana Rasulullah SAW ar-rasyi, wal murtasyi, war raāisyi yakni alladzi yamsyi bainahuma (Rasulullah SAW melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara keduanya).
Keterlibatan dan partisipasi politik dalam Islam terbilang ibadah sepanjang memiliki tujuan dan cara-cara yang benar secara agama dan mengindahkan suara moral. Namun, praktik politik yang tidak bertujuan baik serta menggunakan cara-cara kotor dalam mengupayakannya, tergolong sebagai bentuk kemaksiatan kepada Allah SWT, imbuh Kiai Malik.
āKarena, kemuliaan tujuan politik dalam mendorong pemerataan ekonomi, perbaikan kesejahteraan, penegakan hukum, dan perubahan pada bidang lainnya, bukan alasan untuk membenarkan segala cara,ā tandas Kiai Malik yang duduk di muka pada forum rapat bersama Pejabat Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Waketum PBNU H Asad Said Ali. (Alhafiz K)
Terpopuler
1
KH Miftachul Akhyar: Muktamar Ke-35 Jadi Pelajaran NU untuk Berani Keluar dari Kebiasaan
2
Hukum Mengambil Air Masjid untuk Kebutuhan Warga Saat Kekeringan, Bolehkah?
3
Khutbah Jumat: Hati Merasa Jauh dari Allah, Apa yang Harus Dilakukan?
4
Khutbah Istisqa: Saat Kekeringan Melanda Saatnya Muhasabah dan Berbenah Diri
5
Khutbah Jumat: Musim Kemarau dan Anjuran Hemat Air dalam Islam
6
Membaca Ulang Fiqih Pajak: Agenda yang Tersisa dari Muktamar Ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua