Pengamat: Distribusi Penjualan Motor Listrik Nasional Harus Diatur agar Tak Perparah Kemacetan
NU Online · Rabu, 19 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Haekal Attar
Penulis
Jakarta, NU Online
Pengamat transportasi dari Unika Soegijapranata, Djoko, menilai pembenahan transportasi umum perlu terus dilakukan untuk mengatasi kemacetan di kota-kota Indonesia. Menurutnya, penambahan jumlah motor listrik nasional (Molinas) yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto berpotensi memperparah kepadatan di jalan.
Djoko mengungkapkan, saat ini sekitar 75 hingga 80 persen kendaraan di wilayah perkotaan masih didominasi sepeda motor.
"Jika distribusi penjualan motor listrik nasional tidak diatur dengan bijak, upaya pemerintah kota mengatasi kemacetan tentu akan sia-sia," katanya kepada NU Online pada Rabu (19/8/2026).
Djoko menilai distribusi motor listrik sebaiknya diperketat di kawasan perkotaan, tetapi diperluas ke wilayah perdesaan, pulau-pulau kecil, serta daerah penghasil mineral di luar Jawa yang belum memiliki akses kendaraan listrik.
"Insentif dan pemotongan harga pada motor listrik nasional berpotensi memicu lonjakan kepemilikan kendaraan pribadi," katanya.
"Jika masyarakat membeli motor listrik hanya sebagai kendaraan tambahan, bukan menggantikan kendaraan lama atau beralih ke angkutan umum, ruang jalan akan semakin padat," sambungnya.
Menurut Djoko, penggunaan motor listrik hanya mengalihkan sumber emisi dari bahan bakar fosil ke energi listrik tanpa secara langsung mengurangi jumlah kendaraan di jalan.
"Solusi utama untuk mengurai kemacetan tetap bertumpu pada penguatan dan elektrifikasi transportasi umum massal," tegasnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Motor Listrik Nasional (Molinas) di fasilitas produksi ALVA, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, pada 13 Agustus 2026.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menegaskan pengembangan Molinas merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak dalam membangun kemandirian nasional. Menurutnya, sinergi antara sektor swasta, BUMN, dunia usaha, dan akademisi penting untuk memperkuat penguasaan serta pengembangan sains dan teknologi.
“Hari ini adalah menurut pendapat saya, salah satu contoh yang baik dari apa yang saya sebut Indonesia Incorporated. Keberhasilan suatu bangsa di era modern adalah kemampuan bangsa itu menguasai sains dan teknologi, dan menggunakan teknologi untuk melangsungkan kehidupan bangsa tersebut. Baru bisa dikatakan bangsa itu berhasil, negara itu berhasil,” katanya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus Kepala BPI Danantara, Rosan Roeslani, menilai peluncuran Molinas sebagai langkah untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan industri nasional.
"Karena sesuai dengan arahan Bapak Presiden bahwa kita ini harus mandiri, kita harus berdikari, berdiri di atas kaki sendiri untuk setiap kegiatan ekonomi yang ada di Indonesia," terangnya.
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
3
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
Terkini
Lihat Semua