Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara Juara 1 Santri Vision 2026 lewat KHADIM AI
NU Online · Ahad, 1 November 2026 | 10:00 WIB
Tangkapan layar Menag Prof H Nasaruddin Umar menyerahkan penghargaan kepada santri Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati Jepara di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026).
Muhammad Asrofi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati, Jepara, Jawa Tengah, meraih juara pertama dalam ajang Santri Vision 2026 yang diselenggarakan Kementerian Agama Republik Indonesia dalam rangka memperingati Hari Santri 2026.
Pengumuman pemenang dilaksanakan pada Jumat (30/10/2026), bertepatan dengan kegiatan Munajat Santri untuk Negeri di Masjid Istiqlal, Jakarta. Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi digital bernama KHADIM AI dalam kategori Inovasi Digital dan Teknologi Pesantren (Digital Innovation & Tech).
Tim pengembang KHADIM AI terdiri atas empat santri, yakni Achmad Alan Muqilul Atsarot, Moh. Azkal Arif, Mahesa Syauqonnaja, dan Muchammad Allamuddin Fawwaz.
Baca Juga
NU dan Tantangan Abad Kecerdasan Buatan
KHADIM AI merupakan platform layanan pelaporan digital berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang dirancang untuk mendukung terwujudnya pesantren ramah anak. Sistem ini membantu pesantren mengelola laporan dan pengaduan dari santri maupun wali santri secara lebih cepat, terstruktur, dan terintegrasi.
Salah satu anggota tim, Achmad Alan Muqilul Atsarot, menjelaskan bahwa pengembangan KHADIM AI berangkat dari persoalan komunikasi dan pelayanan administrasi yang mereka temui sehari-hari di lingkungan pesantren.
Menurutnya, banyaknya pesan yang masuk dari wali santri maupun santri kerap membuat petugas administrasi kewalahan. Akibatnya, sejumlah pesan menumpuk dan membutuhkan waktu lebih lama untuk ditindaklanjuti.
"Awalnya kami merasakan sendiri betapa sulitnya meng-handle banyak chat dari wali santri maupun santri. Admin yang bertugas membalas pesan secara manual sering kali kewalahan. Ada banyak pesan yang harus dibaca, dipahami, dan ditindaklanjuti. Dari situ kami berpikir, mengapa tidak membuat semacam admin digital yang bisa membantu pekerjaan tersebut?" ungkap Alan.
Berangkat dari persoalan tersebut, tim mengembangkan chatbot berbasis AI yang tidak hanya memberikan respons otomatis, tetapi juga mampu menganalisis percakapan untuk menggali informasi yang dibutuhkan dalam penyusunan laporan.
"Jadi, KHADIM AI ini bukan sekadar chatbot yang menjawab pertanyaan. Di balik percakapan itu, AI juga bekerja menganalisis pesan, menggali informasi, dan menyusun data laporan. Kami menggunakan pendekatan 5W1H supaya informasi yang diterima lebih lengkap dan jelas," jelasnya.
Setelah percakapan selesai, sistem akan menyusun rangkuman informasi dan membuat tiket laporan secara otomatis. Tiket tersebut kemudian diteruskan kepada petugas lapangan atau pihak terkait untuk ditindaklanjuti.
Petugas lapangan dapat memperbarui perkembangan penanganan melalui sistem hingga laporan dinyatakan selesai. Mekanisme ini memungkinkan petugas langsung memahami persoalan tanpa harus mengulang proses penggalian informasi dari awal.
"Ketika laporan sudah diteruskan kepada tim lapangan, mereka tidak datang dengan tangan kosong. Sudah ada rangkuman persoalan, kronologi, pihak-pihak yang terlibat, dan informasi penting lainnya. Jadi, tim lapangan bisa langsung memahami persoalan dan membangun komunikasi lanjutan dengan pelapor," paparnya.
Dukung Terwujudnya Pesantren Ramah Anak
Selain meningkatkan efektivitas pelayanan administrasi, KHADIM AI dikembangkan untuk mendukung terciptanya lingkungan pesantren yang aman dan ramah anak. Salah satu fokusnya adalah penanganan laporan perundungan (bullying), kekerasan, serta berbagai persoalan yang berpotensi mengancam keamanan dan kenyamanan santri.
Untuk mendukung hal tersebut, KHADIM AI menyediakan fitur penyamaran identitas pelapor. Fitur ini dirancang agar santri maupun pihak lain dapat menyampaikan pengaduan dengan lebih aman tanpa harus mengungkapkan identitasnya secara terbuka.
Alan menjelaskan, fitur tersebut dikembangkan berdasarkan kesadaran bahwa tidak semua orang merasa nyaman atau berani menyampaikan laporan dengan identitas terbuka.
"Kami ingin santri memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan pengaduan. Misalnya, ketika ada santri yang mengalami atau mengetahui tindakan bullying maupun kekerasan, mereka bisa melaporkan tanpa harus merasa takut identitasnya diketahui. Karena itu, kami menyediakan fitur penyamaran identitas pelapor," tuturnya.
Sistem ini juga dilengkapi fitur kategorisasi tingkat urgensi laporan berdasarkan isi percakapan. Melalui fitur tersebut, KHADIM AI dapat mengidentifikasi laporan dengan tingkat risiko tinggi (high) maupun kritis (critical) untuk diteruskan kepada pihak yang perlu segera mengetahuinya.
Selain itu, sistem memiliki kemampuan menganalisis indikasi kondisi emosional pelapor berdasarkan pesan yang disampaikan. Informasi tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan petugas dalam menentukan pendekatan komunikasi saat menindaklanjuti pengaduan.
"Misalnya ada laporan yang terindikasi serius atau masuk kategori critical, sistem dapat memberikan penanda dan meneruskan informasi kepada pihak yang perlu segera mengetahui. AI juga menganalisis indikasi emosi dari pesan pelapor. Dengan begitu, petugas bisa lebih memahami kondisi pelapor sebelum melakukan tindak lanjut," imbuh Alan.
Dari sisi pengawasan, KHADIM AI menyediakan fitur command center yang memungkinkan pengasuh atau kepala pesantren memantau aktivitas pelayanan. Fitur tersebut menyajikan informasi mengenai jumlah percakapan yang ditangani, jenis laporan yang masuk, hingga perkembangan penanganan berbagai kasus.
Terintegrasi dengan Database Pesantren
Untuk memudahkan akses, KHADIM AI menyediakan beberapa kanal layanan. Wali santri dapat menyampaikan laporan melalui WhatsApp dan Telegram, sedangkan santri dapat mengakses layanan melalui portal mandiri pesantren.
Keunggulan lainnya terletak pada integrasi sistem dengan basis data Pondok Pesantren Darul Falah Amtsilati. Melalui pencocokan nomor telepon yang digunakan, sistem dapat mengenali pengguna yang identitasnya telah terdaftar dalam database pesantren.
"KHADIM AI juga kami integrasikan dengan database pondok. Jadi, ketika wali santri menghubungi melalui nomor telepon yang sudah terdaftar, sistem dapat mengenali identitasnya. Ini membantu proses pelayanan menjadi lebih efektif karena petugas maupun sistem sudah memiliki informasi dasar tentang pengguna," terang Alan.
Ia menegaskan, KHADIM AI tidak dirancang untuk menggantikan peran manusia dalam menyelesaikan persoalan di lingkungan pesantren. Sebaliknya, teknologi kecerdasan buatan tersebut menjadi perangkat pendukung untuk meningkatkan efektivitas komunikasi, pencatatan, pengawasan, dan tindak lanjut laporan.
"Teknologi ini kami tempatkan sebagai alat bantu pelayanan. AI membantu menerima, mengolah, dan meneruskan informasi, tetapi tindak lanjut dan penyelesaian persoalan tetap membutuhkan peran manusia. Kami ingin teknologi justru membuat pelayanan pesantren menjadi lebih humanis," tegasnya.
Pesantren Lain Turut Raih Penghargaan
Dalam kategori Inovasi Digital dan Teknologi Pesantren Santri Vision 2026, posisi juara kedua diraih Tim Oman dari Pondok Pesantren Salafiyah Modern Madinatul Amin, Semarang, melalui inovasi MOCHI (Masail Online Comprehensive Heritage Intelligence).
Sementara itu, juara ketiga diraih Tim Takrir dari Pondok Pesantren Tahfizul Qur'an Ibnu Katsir, Bintan, Kepulauan Riau.
Adapun tiga penghargaan harapan masing-masing diraih Tim Sepanjang dari Pondok Pesantren Salafiyah Shirothul Fuqoha, Tim Santri Dev dari Pondok Pesantren Peradaban Jawa Barat, serta Tim Smart Eco-Thaharah dari MTs Andauslia Banjarnegara, Jawa Tengah.
Bagi Alan dan tim, keberhasilan meraih juara pertama menjadi pengalaman sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan KHADIM AI agar memberikan manfaat lebih luas bagi lingkungan pesantren.
"Harapan kami, KHADIM AI bisa menjadi salah satu ikhtiar untuk membangun pesantren yang lebih responsif terhadap kebutuhan santri dan wali santri. Bagi kami, inovasi teknologi bukan hanya tentang kecanggihan sistem, tetapi bagaimana teknologi itu bisa memberikan manfaat nyata bagi kehidupan pesantren," pungkas Alan.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua