Pesantren Jaga Islam dari Dua Sisi, Ilmu dan Akhlak
NU Online · Ahad, 17 Oktober 2021 | 15:00 WIB
Muhammad Salim
Kontributor
Garut, NU Online
Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Garut menyampaikan bahwa pesantren merupakan penjaga Islam di Indonesia. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan penutupan Gebyar Maulid yang dilaksanakan di Lapangan SMK Fauzaniyyah Komplek Pesantren Fauzan RT 05 RW 05 Desa Sukaresmi, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Garut. (16/10)
Menurutnya, agama Islam hanya bisa dijaga dengan ilmu. Sejarah telah membuktikan bahwa jika Islam hanya dijaga dengan kekuasaan (khilafah), itu tidak bisa bertahan selamanya. Buktinya ketika Islam dijaga oleh Turki Usmani, hanya bertahan sampai tahun 1924 masehi.
Namun Islam dijaga dengan ilmu, sebagaimana rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh panitia Gebyar Maulid, secara tidak langsung hal tersebut merupakan cara menjaga ilmu dengan menyebarkan ilmu.
Menurutnya, sebagaimana nabi, penyebaran Islam dilakukan melalui ilmu, bukan dengan kekuasaan. Walaupun sudut pandang sebagian orang menganggap bahwa nabi merupakan khalifah.
Ia menegaskan, bahwa Islam hanya bisa dijaga dengan dua hal, yakni dengan menjaga dengan ilmu dan menjaga islam dengan akhlak. Tradisi menjaga ilmu dan akhlak basisnya ada di pesantren, sehingga pesantren dipandang sebagai penjaga agama Islam karena menjadi basis penjaga ilmu agama dan penjaga akhlak.
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Bisnis Syari’ah (STIEBS) NU Garut itu menitip pesan kepada Nahdliyin untuk terus konsisten menjaga tradisi ulama, yaitu dengan terus belajar di pesantren untuk menjaga ilmu dan menjaga akhlak. Ia mengingatkan kepada para santri agar jangan pernah bercita-cita mencari ilmu dengan tujuan untuk menjadi kyai dan ingin dihormati.
Aceng Hilman, sapaan akrabnya, mengisahkan pengarang kitab Fath al Qorib, yakni Syekh Abu Syuja’ yang berusia 160 dan wafat pada tahun 593 H atau 1197 M yang lalu. Kitab yang dikarangnya sampai sekarang masih eksis dikaji di pesantren. Jika kita tahu akhir hayatnya Syekh Abu Syuja, ia menjadi marbot Masjid Nabawi, yang setiap hari membersihkan masjid, menyalakan lampu, dan menjaga diri dari segala hal yang dilarang oleh Allah swt.
“Jika kita menjaga agama dengan ilmu dan akhlak. insyaallah, dengan izin Allah agama Islam akan tetap jaya sampai hari akhir.” Tegas Aceng Hilman
Hadir dalam kegiatan penutupan tersebut, Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah MWCNU Sukaresmi KH Aceng Muhammad Ali dan KH Aceng Aup Fauzani, Ketua KNPI Sukaresmi Jejen Jaenudin, Sesepuh Pondok Pesantren Mambaul Faizin Cisurupan KH Aceng Dudum Abdusalam, Sesepuh Pondok Pesantren Mukhtarol Faizin KH Aceng Bubuh Hasbullah, Para tamu undangan dan ribuan nahdliyin dari berbagai daerah yang memadati tempat penutupan Gebyar Maulid.
Kontributor: Muhammad Salim
Editor: Syakir NF
Terpopuler
1
Sambangi PBNU, 23 PWNU Sampaikan Harapan Soal Muktamar ke-35 NU
2
5 Santri Laki-laki Jadi Korban Pelecehan Seksual, Syekh Ahmad Al Misry Jadi Tersangka
3
Innalillahi, Pengurus Muslimat NU Kemayoran Wafat dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi
4
Stasiun Bekasi Timur Ditutup Sementara, KRL Hanya Beroperasi hingga Stasiun Bekasi
5
KA Jarak Jauh Tabrak KRL di Bekasi Timur, Gerbong Perempuan Ringsek
6
Sempat Hilang, Karyawan Kompas TV Aini Meninggal Dunia dalam Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Terkini
Lihat Semua