Nasional

Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin Cerahkan 'Pandangan' Difabel Netra

NU Online  ·  Jumat, 31 Juli 2026 | 22:00 WIB

Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin Cerahkan 'Pandangan' Difabel Netra

Beberapa santri sedang membaca Al Qur'an Braille dan shalat berjamaah di Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin, Serpong, Tangerang Selatan, Kamis (30/7/2026). (Foto: NU Online/Suwitno).

Tangerang Selatan, NU Online

 

Usai shalat Dzuhur berjamaah, suara lantunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema lembut di sudut ruangan. Jemari para siswa bergerak perlahan, meraba ke kiri dan ke kanan, menelusuri tiap titik timbul di atas lembaran kertas. Sekilas, tak ada yang berbeda dengan masyarakat awam saat membaca kitab suci. Namun di sini, kalam Ilahi diresapi dan dilafalkan melalui sentuhan jari.

 

Mereka adalah para santri yang menimba ilmu di Sekolah dan Pesantren Tunanetra Raudlatul Makfufin, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Uniknya, tak hanya para santri, jajaran pendidik di lembaga ini pun didominasi oleh para difabel netra.

 

"Di sini, seluruh siswa tunanetra, sebagian besar guru juga tunanetra, walaupun ada yang enggak seperti saya. Bahkan kepala sekolahnya juga tunanetra," ujar Vimall Fitri, salah seorang guru, saat berbincang dengan NU Online, Kamis (30/7/2026).

 

Raudlatul Makfufin—yang bermakna Taman Tunanetra—lahir dari ikhtiar panjang seorang dai tunanetra, almarhum RM Halim Sholeh pada tahun 1983. Berawal dari rasa keprihatinan yang mendalam atas minimnya akses pendidikan agama Islam bagi para disabilitas netra, RM Halim Sholeh memulainya dengan menggelar pengajian rutin mingguan.

 

Langkah kecil tersebut kemudian bertransformasi menjadi cikal bakal pesantren khusus tunanetra pertama di Indonesia. Kini, pesantren yang memiliki slogan “tiada mata tak hilang cahaya” itu tak hanya menjadi tempat nyantri dan mengaji, tetapi juga menaungi pendidikan formal terpadu mulai dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga Majelis Taklim.

 

Tak berhenti pada pembinaan santri, keberadaan pesantren ini memicu terobosan besar dalam literasi Islam difabel. Pada tahun 1996, almarhum RM Halim Sholeh menggagas digitalisasi Al-Qur'an Braille. Setelah melalui berbagai proses persiapan, pencetakan massal resmi dimulai pada tahun 2000.

 

Karya ulama dan pegiat literasi dari Serpong ini kini dampaknya telah dirasakan secara global. Al-Qur'an Braille produksi Raudlatul Makfufin telah didistribusikan ke berbagai pelosok negeri, bahkan menembus mancanegara seperti Turki, Thailand, hingga Afrika Selatan.

 

Untuk memberantas buta huruf Al-Qur'an di kalangan difabel netra, Raudlatul Makfufin juga menyusun buku Pandai Membaca Al-Qur'an Braille. Buku ini memuat panduan metode membaca huruf Arab braille yang dirancang khusus sesuai kebutuhan keinderaan tunanetra.

 

Komitmen Yayasan Raudlatul Makfufin dalam menyebarkan ilmu pengetahuan tak terbatas pada literatur keagamaan semata. Bekerja sama dengan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, yayasan ini aktif mengalihaksarakan berbagai buku umum dan pengetahuan ke dalam format Braille.

 

Upaya berkelanjutan ini menjadi bukti nyata kesetaraan akses informasi. Dengan hadirnya bahan bacaan yang inklusif, para penyandang tunanetra memiliki hak dan kesempatan yang sama untuk menimba ilmu serta mengenali dunia, sebagaimana masyarakat yang dapat melihat.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang