Pidato Lengkap Ketum PBNU: Jihad Santri Kini Melawan Kebodohan, Korupsi, hingga Kerusakan Lingkungan
NU Online · Kamis, 22 Oktober 2026 | 16:30 WIB
Ketua Umum PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) saat menjadi pembina Apel Hari Santri 2026 di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Kamis (22/10/2026). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube TVNU)
Ahmad Naufa
Penulis
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Apel Hari Santri 2026 bertajuk "Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri" di Lapangan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa 22 Oktober 2026.
Berikut adalah pidato lengkap Gus Kikin dalam kesempatan tersebut.
***
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang sama-sama kita muliakan dan kita taati Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama segenap rais syuriyah PBNU. Katib Aam PBNU Prof Mohammad Nuh DEA beserta segenap katib syuriyah PBNU. Yang kita hormati Ketua Panitia Hari Santri 2026 Gus Saifullah Yusuf. Para wakil ketua umum, para ketua, dan seluruh jajaran pengurus Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Rais Syuriyah PWNU KH Anwar Manshur beserta segenap jajaran PWNU Jawa Timur, pimpinan lembaga dan banom NU, para alim ulama pimpinan pondok pesantren, wabil khusus keluarga besar Pondok Pesantren Tebuireng dan para santri yang saya cintai dan yang saya banggakan. Seluruh warga Nahdlatul Ulama seluruh Indonesia yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Alhamdulillah, kita panjatkan puji syukur ke Hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberi kerahmatan dan keberkahan kepada kita semua. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah membawa cahaya kebenaran dan kedamaian untuk kita semua.
Para kiai dan hadirin sekalian,
Pada tanggal 17 Agustus 1945, melalui Bung Karno dan Bung Hatta, bangsa Indonesia memang telah memproklamirkan kemerdekaan dari para penjajah. Tetapi Belanda, yang menguasai Nusantara selama tiga setengah abad, tentu saja tidak rela kemerdekaan itu terjadi. Melalui cara mendompleng tentara Sekutu AFNEI, yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Sir Philip Christison, Pemerintah NICA masuk kembali ke wilayah Indonesia. Mereka ingin kembali menguasai negara kita.
Menghadapi situasi sulit seperti itu, Bung Karno mengirimkan utusan khusus kepada Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari di Tebuireng, dan mengajukan pertanyaan: Apa hukumnya membela tanah air menurut agama Islam?
Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari memberi jawaban jelas dan tegas: Hukum memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia adalah fardhu ain. Artinya, adalah suatu kewajiban bagi semua umat Islam untuk membela dan mempertahankan kemerdekaan. Siapa pun yang mati dalam perjuangan itu tergolong syahid. Jawaban yang dikeluarkan pada tanggal 17 September 1945 ini dikenal sebagai Fatwa Jihad, dan telah menjadi kekuatan spiritual serta dukungan yang sangat penting bagi Indonesia pimpinan Presiden Soekarno.
Fatwa Jihad itu pula, kemudian dipertegas pada pertemuan alim ulama se-Jawa dan Madura di kantor PBNU atau Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama yang di Surabaya, pada tanggal 21-22 Oktober tahun 1945. Di akhir pertemuan, para ulama itu membuat keputusan yang disebut Resolusi Jihad—yang hari ini kita peringati—yaitu permohonan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar menentukan sikap dan tindakan yang nyata atas situasi yang sudah membahayakan agama dan negara Indonesia. Suatu keputusan yang telah menjadi penyemangat dan pencetus perlawanan rakyat, para ulama, santri, dan arek-arek di Kota Surabaya. Juga telah menjadi inspirasi adanya perlawanan di daerah-daerah yang lain.
Dilihat dari persenjataan dan kekuatan tentara Sekutu, apa yang dimiliki oleh para santri dan para pejuang memang tidak ada apa-apanya. Tetapi melalui semangat jihad, cancut taliwondo, dan persatuan, maka kekuatan besar tentara Sekutu itu bisa diimbangi oleh para pejuang. Melalui semangat dan persatuan itu pula, pada tanggal 30 September tahun 1945, Brigadir Jenderal Mallaby tewas dalam ledakan mobil di Jembatan Merah oleh para santri dan para pejuang.
Dalam kitab Qanun Asasi, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari menyitir pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa Allah tidak pernah memberi kebaikan kepada siapa pun melalui perpecahan, baik di masa lalu maupun di masa yang akan datang. Artinya, persatuan itu jauh lebih penting daripada kekuatan material senjata.
Mengingat pentingnya persatuan itu pula, Hadaratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari lebih jauh mengatakan, dengan adanya persatuan dan kesatuan, banyak negara menjadi makmur, banyak orang jelata menjadi penguasa, banyak peradaban berkembang pesat, banyak kawasan mengalami kemajuan, banyak pemerintahan berdiri tegak, banyak komunikasi terjadi, dan seterusnya.
Para kiai, hadirin yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta'ala,
Kita telah merdeka lebih dari delapan dekade, tetapi tantangan bangsa dan negara kita masihlah sangat besar. Dalam hal ini, semangat Resolusi Jihad itu masih relevan dan perlu terus kita hidupkan. Bukan melalui bambu runcing dan mengangkat senjata, melainkan melalui pemikiran dan gerakan untuk ikut serta di dalam mengatasi kemiskinan, kebodohan, kerusakan hutan dan lingkungan, praktik korupsi dan tantangan yang lainnya.
Untuk itu, semangat persatuan, sebagaimana digarisbawahi oleh Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, merupakan modal kita semuanya, modal untuk berjamaah dan berjam’iyah di lingkungan Nahdlatul Ulama dan juga di dalam bermasyarakat dan bernegara bangsa Indonesia. Melalui persatuan antara pemerintah, masyarakat, kekuatan-kekuatan lainnya, upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa menuju masyarakat adil dan Makmur, baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur akan lebih mudah dicapai.
Melalui Keputusan Presiden Nomor 22 tertanggal 22 Oktober tahun 2015, Pemerintah Indonesia telah menjadikan Peristiwa 22 Oktober 45 sebagai Hari Santri. Ini merupakan penghargaan dan pengakuan terhadap perjuangan para kiai dan santri. Tetapi, perjuangan para kiai dan santri dan pesantren tentu saja tidak cukup sampai di sini. Dalam beberapa dekade belakangan dan ke depan, kita telah dan akan menghadapi perubahan-perubahan yang sangat cepat. Tanpa didasari oleh akar spiritual dan nilai-nilai tradisi yang kuat, perubahan-perubahan itu akan membuat bangsa Indonesia mudah tumbang dan terbawa arus yang penuh ketidakpastian.
Nahdlatul Ulama memiliki akar budaya yang sangat kuat, sebagaimana ditunjukkan oleh praktik keberagaman dan hidup bermasyarakat sehari-hari. Akar yang kuat ini memungkinkan jamaah dan jam'iyah Nahdlatul Ulama tidak hanya mampu menjadi jembatan antara akar tradisional dan modern, atau apa yang disebut oleh Clifford Geertz sebagai penyambung budaya, melainkan juga memungkinkan nilai-nilai tradisional dan modern itu menjadi bagian yang terpadu tanpa harus dipertentangkan satu dengan yang lainnya. Perpaduan antara nilai-nilai spiritual dan material merupakan suatu keniscayaan ketika manusia menginginkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Melalui cara pandang dan mempraktikkan cara pandang seperti ini di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita semua bisa terus menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan negara Indonesia.
Terakhir, marilah kita sama-sama bermunajat dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, semoga kita semua selalu memperoleh kerahmatan, keberkahan, keridhoan, dan kemudahan di dalam menggapai cita-cita bersama.
Selamat Hari Santri 2026,
Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith tharieq.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Terpopuler
1
PBNU Rilis Twibbon Hari Santri 2026, Unduh Linknya di Sini
2
KH Syukron Makmum dan Daarul Rahman-nya
3
Ketum GP Ansor: Keteladanan KH Abbas Buntet Layak Diabadikan sebagai Pahlawan Nasional
4
Akhir Perang AS-Israel Versus Iran
5
Masyarakat Sipil Gelar Aksi di Tugu Proklamasi dan Tugu Tani Besok, Soroti Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
6
Karhutla Belum Reda, Rais Aam PBNU Ajak Masyarakat Terus Berdoa agar Musibah Segera Berakhir
Terkini
Lihat Semua