Nasional

Poroz Gelar Halal Bihalal, Perkuat Kolaborasi Zakat dan Qurban Digital

NU Online  ·  Jumat, 17 April 2026 | 09:00 WIB

Poroz Gelar Halal Bihalal, Perkuat Kolaborasi Zakat dan Qurban Digital

Momen foto bersama Halal Bihalal Poroz di Gedung PBNU, Jakarta, pada Kamis (16/4/2026). (Foto: TVNU/Junaedin Ghufron)

Jakarta, NU Online

Perkumpulan Organisasi Pengelola Zakat (Poroz) yang terdiri dari 13 organisasi kemasyarakatan (ormas) menggelar Halal Bihalal di Gedung PBNU, lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2026).


Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat kolaborasi dalam pengelolaan zakat sekaligus peluncuran program qurban digital.


Ketua Umum Poroz Moch Bukhori Muslim menjelaskan bahwa halal bihalal tersebut dirangkaikan dengan launching Program Qurban Bersama 13 ormas anggota Poroz.


Ia menegaskan bahwa halal bihalal memiliki peran penting dalam mempererat silaturahmi, sejalan dengan tagline Poroz, yaitu Bersatu dalam Zakat.


“Acara hari ini halal bihalal sekaligus launching. Kenapa halal bihalal? Karena Lembaga Amil Zakat ini harus mempererat silaturahim, sehingga kita punya tagline bersatu dalam zakat,” ujarnya.


Menurutnya, setelah fokus pada pengelolaan zakat, Poroz kini menghadapi momentum besar, yaitu qurban. Momentum halal bihalal ini dimanfaatkan sebagai ajang memperkuat kebersamaan sekaligus membangun kolaborasi dalam menggalang dana qurban yang potensinya sangat besar.


“Hari ini sekaligus teman-teman Lembaga Amil Zakat ini berkolaborasi, bersatu, dan berdiskusi bagaimana menggalang dana qurban bersama-sama tanpa ada kesinggungan di mana pun,” tegasnya.


Ia menjelaskan bahwa Poroz tengah mengembangkan qurban digital melalui kolaborasi dengan Shopee untuk menjangkau generasi muda yang terbiasa bertransaksi secara online.


“Sedang dikerjakan melalui kolaborasi, terutama dengan menggaet jalur online. Bukan sapinya yang online, melainkan proses pembeliannya. Hari ini hadir juga Shopee untuk berkolaborasi, agar mampu menggaet Gen Z yang kini terbiasa melakukan qurban lewat transfer,” jelasnya.


Lebih lanjut, Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid menyampaikan bahwa ke depan organisasi akan berfokus pada digitalisasi.


Ia menegaskan rencana membangun sistem terpadu yang menghubungkan BAZNAS pusat hingga BAZNAS desa sebagai upaya memperkuat sistem kerja lembaga secara menyeluruh, sehingga muzaki dan mustahik dapat diakses secara nasional secara transparan.


“Mesin organisasi kita adalah digitalisasi. Kita akan membangun sistem terpadu dari BAZNAS pusat hingga BAZNAS desa,” tegasnya.


Ia menambahkan bahwa lembaga zakat modern harus memenuhi empat syarat utama, yaitu dikenal masyarakat (top of mind), dipercaya karena amanah dan transparan, mudah dijangkau melalui digitalisasi dan aplikasi, serta dibanggakan sebagai identitas sosial yang menumbuhkan rasa kepemilikan publik.


Dengan empat pilar tersebut, zakat tidak hanya menjadi instrumen distribusi, tetapi juga simbol kebanggaan dan kekuatan ekonomi syariah yang tumbuh berkeadilan.


“Lembaga zakat harus dikenal, dipercaya, dijangkau secara digital, dan dibanggakan sebagai identitas sosial,” ujarnya.


Ia juga menegaskan bahwa ke depan zakat perlu masuk ke dalam sistem resmi negara, tidak hanya dikelola oleh lembaga swasta atau ormas, sehingga menjadi bagian dari kebijakan nasional.


“Haji ditangani oleh lembaga pemerintah, maka zakat pun nanti ditangani oleh lembaga pemerintah,” pungkasnya.

Kontributor: Ahmad Syafiq S

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang