Prof Quraish Shihab Soroti Generasi Sandwich: Berbakti kepada Orang Tua Tak Boleh Korbankan Hak Anak
NU Online · Rabu, 18 Maret 2026 | 18:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Fenomena generasi sandwich, kelompok usia produktif yang merasa terhimpit karena harus menghidupi dua generasi sekaligus—anak dan orang tua—menjadi isu penting di kalangan anak muda Indonesia. Beban finansial dan moral ini sering membuat mereka berada di posisi dilema antara kewajiban kepada orang tua dan hak anak.
Pakar Tafsir Prof M Quraish Shihab menjelaskan, kata berbakti dalam Al-Qur’an menggunakan istilah wabil walidaini yang berarti “dengan orang tua”, bukan sekadar “kepada”. Makna ini menekankan kebersamaan dan kedekatan emosional yang mendalam antara anak dan orang tua.
Prof Quraish menegaskan bahwa berbakti tidak boleh disalahartikan sebagai kepatuhan buta yang merugikan hak anak. Hal tersebut ia sampaikan dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Dilema Sandwich Generation yang Berbakti di kanal Youtube Quraish Shihab pada Selasa (17/3/2026).
Baca Juga
Jihad dengan Berbakti kepada Ibu
“Jangan lantas berkata bakti itu ikut semua. Anak punya hak, apalagi kalau sang anak mempunyai kewajiban terhadap anak-anak dan keluarganya,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa orang tua tidak boleh memaksakan sesuatu yang di luar kemampuan anak atau melanggar hak dasar mereka, misalnya soal pasangan hidup atau pilihan karier.
“Anak perempuan juga sama, kalau ‘ayah saya paksa kawin dengan orang dari anak paman supaya ini itu’, kata Nabi ‘boleh berkata tidak’. Jadi sebenarnya jangan dianggap bakti yang dituntut agama itu harus ikut, kalau berakibat merugikan dan mencabut hak-hak asasi anak,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof Quraish membedakan antara tuntutan hukum dan tuntutan moral. Secara hukum, anak wajib membantu orang tua jika benar-benar membutuhkan dan anak memiliki kelebihan harta. Namun, solusi utama untuk keluar dari himpitan ini adalah komunikasi dua arah yang setara, layaknya persahabatan.
“Kalau mau tidak terhimpit, menyatulah. Ayah ibu memahami kebutuhan anak, anak memahami kebutuhan ibu. Menyatu itu,” katanya.
Ia menambahkan bahwa mengeluh atau bersikap jujur tentang beban hidup kepada orang tua bukan tanda kedurhakaan, melainkan wujud kedekatan emosional.
“Anak yang mengeluh pada ayahnya justru menunjukkan kedekatannya pada ayahnya,” imbuhnya.
Prof Quraish merekomendasikan pembangunan persahabatan antara orang tua dan anak sejak dini. Dengan adanya transparansi ekonomi dan empati dari kedua pihak, beban generasi sandwich tidak lagi menjadi penjara, melainkan bentuk gotong royong keluarga yang diridhai agama.
Ia berharap generasi muda dapat menjalankan kewajiban moral mereka tanpa mengorbankan kesejahteraan masa depan keluarga inti.
“Di Indonesia, keluarga besar itu sangat guyub, sangat kolektif dan sebetulnya sesuatu yang diridhai oleh agama dan itu positif, kita makin besar, makin kuat hubungan kita bantu-membantunya jika lebih terbuka,” pungkas Prof Quraish.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Niat Zakat Fitrah Lengkap untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Orang Lain yang Diwakilkan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua