"Ukhuwah Wathaniyah" Dulu, Baru "Ukhuwah Islamiyah"
NU Online · Ahad, 6 Oktober 2013 | 23:30 WIB
Semarang, NU Online
Kondisi umat Islam dewasa ini tidak menggembirakan. Di beberapa negara, umat Islam sangat menderita karena pertikaian. Afghanistan yang penduduknya 100 persen Islam dilanda perang saudara, lantas diporak-porandakan Amerika, dan sekarang penuh dengan konflik sektarian.
<>
Republik Somalia yang penduduknya juga 100 persen Islam, bahkan jadi negara gagal. Bisa dikatakan, tak ada pemerintahan di negara itu, karena semua orang bebas memegang senjata dan memiliki kekuasaan sendiri-sendiri.
Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam sambutan pengarahan Pelantikan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah di halaman Pondok Pesantren Al-Itqon Pedurungan, Semarang, Jawa Tengah, Ahad (6/10).
Itu semua, menurut Kang Said, panggilan akrabnya, karena tiadanya rasa nasionalisme di kalangan warga negaranya. Tak ada ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa dan setanah air) di sana.
Atas fakta tersebut, Kang Said mengusulkan ukhuwah wathaniyah didahulukan, baru kemudian ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Jika persaudaraan nasional ini sudah kokoh, sangat mudah untuk membangun persaudaraan sesama umat Islam.
Logikanya sederhana. Kata dia, orang ingin membangun masjid, mendirikan pesantren atau madrasah butuh tempat berpijak. Jadi memiliki dan menunjung tanah air merupakan kewajiban, karena tanpa tanah air, kewajiban berupa dakwah Islam tidak bisa dijalankan.
“Apa kita mau membangun pesantren dan madrasah di awang-awang?” ujarnya dengan kalimat tanya.
Tapi dia menegaskan, hal itu hanya sebatas usulan. Itupun menurutnya meniru ajaran pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari yang dia modifikasi. KH Hasyim Asy’ari, kisah Said, mengajarkan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathoniyyah. Ajaran itu dia balik susunannya menjadi ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah.
“Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengajarkan ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Saya punya usul yang membalik susunannya saja. Ini sebatas ide saya,” pungkasnya. (Mohammad Ichwan/Mahbib)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat Dzulqadah: Bulan Damai di Tengah Dunia yang Gemar Bertikai
2
Khutbah Jumat: Jangan Halalkan Segala Cara Meski Hidup Sedang Sulit
3
Khutbah Jumat: Menghidupkan Tradisi Membaca di Zaman Serba Instan
4
Khutbah Jumat: Hari Bumi Sedunia, Mari Jaga Alam Kita
5
Khutbah Jumat: Meneladani Persahabatan Nabi dengan Alam
6
Khutbah Jumat: Membuka Jendela Dunia Melalui Budaya Membaca
Terkini
Lihat Semua