Rais Aam: Secara Implisit, Dalil Maulid dan Haul Sudah Dijelaskan Al-Qur'an
NU Online · Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
"Ironisnya, masih banyak kalangan yang tidak setuju dengan adanya perayaan kelahiran Nabinya. Mereka mengatakan bahwa perayaan kelahiran Nabi adalah bid’ah karena tidak ada dalilnya. Oleh karena itulah, penting bagi kita untuk menjelaskan hakikat perayaan maulid beserta dalil-dalil yang membolehkannya kepada mereka yang membid’ahkan," ujarnya.
وَالسَّلامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا
"Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa ‘alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali." (QS. Maryam: 33).
"Maksud kalimat 'Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku' adalah keselamatan dari Allah kepada Nabi Isa as. Kemudian kalimat 'pada hari aku dilahirkan' adalah keselamatan ketika dilahirkan dan menjalani hidup di dunia. Kemudian kalimat 'pada hari aku meninggal' maksudnya di alam kubur. Sedangkan kalimat 'dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali' maksudnya adalah ketika di akhirat. Karena sebagaimana semua manusia, Nabi Isa as. juga pasti akan melewati tiga fase ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur, lalu dibangkitkan lagi menuju akhirat. Dan, Allah memberikan keselamatan kepada beliau di semua fase ini," terang Kiai Miftach lebih lanjut.
Dari dua ayat d iatas, lanjut dia, bisa disimpulkan bahwa Allah memberikan ucapan saat hari kelahiran Nabi Yahya dan Nabi Isa (Maulid) dan juga ucapan saat beliau berdua wafat, yang dalam tradisi Nahdliyin biasa disebut dengan haul.
"Benar, dua ayat diatas adalah dalil perayaan maulid dan haul dari para Nabi. Lantas kita juga harus mengetengahkan bukti atas diperbolehkannya melakukan peringatan haul para ulama. Salah satu ayat yang bisa dijadikan bukti dan dalil adalah ayat lain dalam surat Maryam yang bunyinya, 'Ważkur fil-kitābi maryam, iżintabażat min ahlihā makānan syarqiyyā', yang artinya 'Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al-Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur." (QS Maryam: 16)," kata Kiai Miftach.
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
5
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 5 Cekelan Utama kanggo Wong kang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Terkini
Lihat Semua