Said Aqil: Warga NU Belum Tersentuh Kebijakan Pemerintah
NU Online · Jumat, 22 Mei 2015 | 15:01 WIB
Jakarta, NU Online
Deru pembangunan yang terlihat gemerlap ternyata belum menyentuh warga NU yang menjadi mayoritas di Indonesia. Kelompok kaya dan para konglomeratlah yang menikmati kue pembangunan ini.
<>
Demikian disampaikan oleh KH Said Aqil Siroj saat memberikan sambutan dalam mukernas Ikatan Sarjana NU (ISNU) di gedung PBNU, Jum’at (22/5).
Salah satu contoh kecil yang disampaikan adalah Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam interaksinya dengan masyarakat di desa-desa, ternyata kelompok paling bawah seperti petani, pedagang kaki lima yang sangat membutuhkan bantuan modal malah tidak dapat mengakses.
“Yang dapat kredit ya Haji Hasan, Haji Abu Bakar, kalau Solikin, yang tukang bakso atau Kusnadi malah tidak dapat kredit,” jelasnya.
Mengenai pengembangan ekonomi syariah, Kiai Said berpendapat bahwa sektor ini masih memerlukan perjuangan berat. Bahkan di Arab Saudi sendiri yang menyatakan diri negara Islam, para keluarga raja lebih senang menyimpan uangnya di Swiss atau negara Eropa lainnya.
“Memang berat, tapi sedikit demi sedikit akan bisa berkembang. Ngak bisa menanam hari ini besok mengharapkan panen,” paparnya.
Prinsip lain yang perlu diterapkan jika ingin sukses adalah mampu meringatkan beban, tidak merugikan siapapun dan bertanggung jawab.
Suatu ketika, ia bertemu dengan KH Mahmud Ali Zein, pengelola BMT Sidogiri yang sukses mengembangkan aset lebih dari satu trilyun rupiah. Keberhasilan BMT ini karena adanya pemisahan manajemen antara Kiai Nawawi sebagai pengaruh pesantren dan para pengelola BMT. Dengan tidak ada intervensi ini, maka unit usaha bisa dikelola dengan baik.
Ia juga mengingatkan pentingnya sektor ekonomi dalam mendidik generasi mendatang. “Jangan sampai kita meninggalkan keturunan yang lemah, baik lemah agamanya, lemah ekonominya, lebah ilmunya dan kelemahan lainnya,” tandasnya.
Dalam mukernas kali ini, persoalan ekonomi banyak dibahas. Dalam sesi pembukaan dibincangkan soal pengembangan ekonomi syariah sedangkan sesi selanjutnya dibicarakan pengembangan ekonomi pesantren. (mukafi niam)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua