Nasional

Seni Menyucikan Hati Menurut Prof Quraish Shihab: Paham Makna Ikhlas dan Bahaya Riya

NU Online  ·  Senin, 16 Maret 2026 | 11:00 WIB

Seni Menyucikan Hati Menurut Prof Quraish Shihab: Paham Makna Ikhlas dan Bahaya Riya

Prof Muhammad Quraish Shihab. (Foto: tangkapan layar YouTube Quraish Shihab)

Jakarta, NU Online

 

Pakar Tafsir Al-Qur'an, Prof Muhammad Quraish Shihab menyampaikan bahwa seni mensucikan hati manusia dengan memahami makna ikhlas dan bahayanya riya. Menurutnya, ikhlas bukanlah sebuah kondisi yang statis, melainkan perjuangan berkelanjutan untuk mengeluarkan kotoran niat dari dalam hati.

 

Prof Quraish mengibaratkan hati manusia seperti segelas air. Air murni adalah air yang sejak awal tidak bercampur dengan apa pun, sementara air suci adalah air yang tadinya kemasukan batu atau kotoran, namun kotoran tersebut berhasil dikeluarkan.

 

“Upaya mengeluarkan itulah yang dinamai ikhlas. Jadi, memang ada sesuatu (gangguan niat) itu wajar dan manusiawi. Dalam upaya melakukan apa pun, kita harus bisa mengeluarkan 'batu' tersebut agar hati menjadi suci,” ujarnya dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Misbah: Hidup Bersama Al-Qur’an bertajuk Ikhlas yang Sering Disalahpahami yang tayang di kanal Youtube Quraish Shihab, diakses pada Ahad (15/3/2026).

 

Ia meluruskan anggapan bahwa mengharap pahala atau surga berarti tidak ikhlas. Menurutnya, selama apa yang diharapkan adalah sesuatu yang memang dijanjikan dan direstui oleh Allah, maka hal tersebut tetap masuk dalam kategori ikhlas.

 

“Misalnya kita shalat karena Allah swt, tapi mau dapat surga boleh tidak? Boleh dong. Ikhlas atau tidak? Itu ikhlas. Kalau kita kaitkan dengan Allah swt dan memang Allah swt memerintahkan kita melakukan pertukaran hadiah demi menjaga persahabatan,” katanya.

 

Masalah muncul ketika niat tersebut bergeser sepenuhnya kepada makhluk, seperti keinginan untuk mendapatkan validasi sosial atau pujian semata. Prof Quraish menyampaikan bahwa tantangan terbesar dalam beramal adalah penyakit riya atau pamer.

 

Prof Quraish mengungkapkan bahwa riya sangat sulit dideteksi karena sifatnya yang sangat halus. Ia mengutip perumpamaan ulama yang menggambarkan riya seperti semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di kegelapan malam.

 

“Riya itu seperti semut hitam. Semut hitam ketika berjalan di kegelapan malam, apakah bisa dilihat? Betul-betul sulit. Itu harus hati-hati karena dia bisa datang sebelum beramal, sewaktu beramal, bahkan sesudah amal itu selesai dilakukan,” ucapnya.

 

Ia mengajak untuk terus berlatih mencapai derajat mukhlis (orang yang berusaha ikhlas). Meski tidak mudah dan membutuhkan refleksi sepanjang hayat, konsistensi dalam mengikuti petunjuk Allah swt menjadi kunci utama.

 

“Ucapan Lillahi Ta'ala itu mendorong kita untuk ikhlas, mendorong kita belajar melakukan amalan sesuai tuntunan Allah swt. Itu memang butuh latihan terus yak arena butuh perjuangan untuk ikhlasnya dapat diterima,” ujar Prof Quraish.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang