Bus melaju sekitar pukul 10.00 WIB dari Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya usai berziarah ke makam pendiri pesantren Ajengan KH Khoer Affandi dan dewan masyayikh.
Sampai di Panjalu, para pengajar FIN Unusia pun menaiki perahu guna sampai di makam yang berada di tengah Situ Panjalu. Rombongan tiba tepat saat kumandang azan zuhur menggema dari masjid terdekat.
Di atas perahu tersebut, Ngatawi al-Zastrouw, salah seorang pengajar FIN Unusia, bercerita perjalanannya kali pertama ke tempat tersebut berziarah membersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Sekitar 29 tahun silam, tepatnya tahun 1991, Gus Dur bersamanya menziarahi makam tersebut tengah malam, sekitar pukul 01.00 dini hari. Dengan perahu getek dan penerangan patromak saja, mereka sampai di situs tersebut dengan selamat. Kelelawar yang berukuran besar bergelantungan di pepohonan yang rimbun menyambut kehadiran mereka.
Di atas perahu tersebut juga, Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) 2010-2015 itu menjelaskan bahwa Syekh Panjalu merupakan sosok pangeran Kerajaan Panjalu yang memiliki kesaktian.
Diceritakan bahwa suatu ketika ia bertemu Sayyidina Ali kw. Namun, kesaktiannya itu tak sebanding dengan kedigdayaan yang dimiliki oleh menantu Nabi Muhammad SAW. itu.
Dari mitos tersebut, pengajar FIN Unusia lain berkomentar bahwa memang dalam suatu mitos keislaman dikaitkan dengan Nabi Muhammad SAW dalam hal ini, diwakili dengan kehadiran Sayidina Ali kw.
Sebelum berziarah, rombongan FIN Unusia mengawalinya dengan shalat berjamaah jamak qashar zuhur dan asar di mushalla yang disediakan di tempat tersebut.
Tiba di hadapan makam, Zastrouw seperti mencari-cari sesuatu. Lalu, ia duduk paling pertama. “Di sini, kira-kira Gus Dur duduk waktu itu. Pokoknya, menghadap ke kiblat,” katanya. Posisi tersebut sisi sebelah kanan dari arah pintu masuk makam. Dulu, ia menjelaskan, belum diberi ruangan tertutup seperti sekarang, masih makam saja.
Lalu, Sosiolog lulusan Universitas Indonesia itu juga menjelaskan bahwa saat itu, Gus Dur menzikirkan istighfar 1.000 kali, surat al-Ikhlas (Qulhu) 11 kali, surat al-Insyirah (Alam nasyrah) 11 kali, Al-Qadr (Inna anzalna) 11 kali, dan akhir surat Al-Taubah, yakni ayat 128-129 (Laqad jaakum) 11 kali.
Gus Dur, dalam suatu cerita sebagaimana termaktub di NU Online, menemukan makam tersebut atas petunjuk yang diterimanya melalui mimpi untuk menziarahi makam seorang wali yang terletak di Pulau Nusa Gede. Hal yang dimaksud adalah makam Syekh Panjalu, salah seorang penyebar Islam di wilayah Pasundan.
Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
3
Kompensasi kepada Pemilih dengan Dalih Transportasi atau Ongkos Kerja untuk Memengaruhi Pilihan adalah Haram dan Suap
4
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
5
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
6
Jusuf Kalla Buka Suara soal Kerusuhan di Aceh: Konflik Internal, Bukan ke Pemerintah Pusat
Terkini
Lihat Semua