Surabaya, NU Online
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Nasaruddin Umar mengatakan, akhir-akhir ini isu toleransi terus digemakan di seluruh penjuru Republik Indonesia.
<>
Ia menyampaikan hal itu pada temu tokoh agama (halaqah ulama) yang digelar Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI di hotel Singgasana, Surabaya, Jawa Timur, pada Ahad (1/12), malam.
Sayangnya, kata Wamenag, esensi toleransi mengalami pendangkalan makna. Padahal, lanjut mantan Katib Aam PBNU ini, toleransi tidak boleh mengabaikan kepatuhan dan penghayatan kita kepada ajaran agama masing-masing.
“Selain itu, toleransi juga tidak boleh mengabaikan kepatuhan kita sebagai warga negara. Pada titik ini, agama harus tetap menjadi perekat ukhuwah insaniyah atau persaudaraan kemanusiaan,” ujarnya.
Seusai membuka acara secara resmi, Nasaruddin Umar yang juga Rektor PTIQ ini didaulat memukul gong tanda dibukanya halaqah ini disaksikan Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf.
Sementara itu, KH Ali Musthofa Ya’qub yang hadir pada kesempatan itu mengatakan bahwa agama jangan dipolitikisasi. Dengan toleransi, para agamawan harus terus memperjuangkan agama untuk membela kemanusiaan. Bukan sebaliknya justru menjadi toleransi sebagai tempat berlindung dari kepentingan sempit.
Acara yang dihadiri oleh para ulama dan kiai dari berbagai provinsi di Indonesia ini mengangkat tema “Penguatan Tradisi Ilmu dan Keilmuan” di pesantren. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-Yogyakarta dan Jawa Tengah Tolak Pembatasan Ahwa hingga Perubahan Kedudukan Rais Aam
2
Khutbah Jumat: Tahun Baru Hijriah, Momentum Upgrade Diri Menuju Muslim yang Lebih Baik
3
Khutbah Jumat: Spirit Muharram untuk Menghadapi Era Modern
4
Usulan LF PBNU Atasi Perbedaan Awal Bulan Hijriah di Tengah Kesepakatan Imkanur Rukyah
5
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua