TGH Turmudzi Badaruddin: NU dan PBNU Saklawase
NU Online · Jumat, 16 Oktober 2026 | 06:00 WIB
Hasan Basri Marwah
Kolumnis
Akhir Tahun 1997
Sekitar bulan November 1997 yang bertepatan dengan Rajab 1418 Hijriyah—senjakala rezim Orde Baru mulai terlihat telanjang. Hanya beberapa bulan sebelum tembok kekuasaan itu benar-benar runtuh, Nahdlatul Ulama (NU) menggelar Konferensi Besar (Konbes) Alim-Ulama di Pesantren Qomarul Huda, Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Kala itu, hubungan NU dan pemerintah berada di titik nadir; mereka berhadapan secara terbuka. Ketua Umum PBNU saat itu, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), merupakan salah satu ikon perlawanan sipil. Dalam iklim politik yang mendidih tersebut, sangat beralasan jika Gus Dur dan jajaran PBNU memilih Lombok sebagai tuan rumah.
Bagaimanapun, Gus Dur mengenal karakter Desa Bagu dan Pulau Lombok dengan sangat baik. Sebelum menjabat Ketua Umum PBNU, Gus Dur kerap berkunjung ke Lombok, khususnya ke kediaman Tuan Guru (TG) Muhammad Faishal Hannan di Praya dan TG Turmudzi Badaruddin. Indonesia Timur, Lombok dan Sumbawa, selalu menjadi pilihan para ulama Jawa ketika harus berhadapan dengan kekuasaan, dari sejak Sunan Giri sampai zaman NU berdiri dan berkembang.
Desa Bagu seketika menjadi saksi perhelatan sejarah. Banyak tokoh penting NU, baik kiai sepuh maupun kiai muda dari berbagai pesantren di Jawa, berdatangan -tidak mungkin menyebut seluruh nama. Mereka menginap di rumah-rumah warga sekitar pesantren yang menyambut kehadiran para panutan dengan hangat dan sukarela. Seluruh akomodasi disediakan secara swadaya oleh masyarakat—sebuah pemandangan yang memperlihatkan betapa telanjangnya kecintaan warga NU Lombok terhadap ormas dan ulamanya.
Konbes yang membahas isu-isu krusial bangsa itu sama sekali tidak dihadiri maupun dibuka oleh perwakilan pemerintah yang sedang guncang. Pembukaan dilakukan secara mandiri oleh para kiai dan pengurus PBNU.
Dari arena Munas-Konbes Alim-Ulama NU di Pesantren Qomarul Huda itulah, nama TG Turmudzi mulai bergaung di panggung nasional.
NU dan PBNU Saklawase
TG Turmudzi meniti pengabdian di NU secara tertib dan berjenjang: dari tingkat ranting, cabang, wilayah, hingga akhirnya dipercaya menjadi Mustasyar PBNU dalam rentang waktu yang panjang. Bagi beliau, pengabdian kepada NU adalah ikhtiar sepanjang hayat. Tidak ada istilah "PBNU secukupnya"—yang ada hanyalah pengabdian struktural dan kultural selamanya (saklawase).
Sejak wafatnya TG Saleh Hambali Bengkel (sang guru) dan TG Muhammad Faishal Hannan, TG Turmudzi melanjutkan estafet kepemimpinan dan pengabdian NU di Nusa Tenggara Barat secara aktif. Hampir tidak ada Munas, Konbes, Muktamar, atau agenda resmi NU yang terlewat oleh beliau. Bahkan dalam kondisi kesusahan ekonomi maupun fisik yang rapuh, beliau tetap mengusahakan hadir.
Pernah suatu ketika, saat menjabat Mustasyar PBNU pada masa kepemimpinan (Pjs) Rais Aam KH Miftachul Akhyar dan KH Said Aqil Siroj, TG Turmudzi tetap menghadiri rapat gabungan di Kantor PBNU, Jakarta. Beliau duduk bersahaja di ruangan rapat, meski tubuhnya melemah dan hidungnya terpasang selang oksigen.
Suatu hari pada tahun 2005, saya mengantar tamu dari Jakarta untuk sowan ke Pesantren Qomarul Huda. Setelah beramah-tamah, TG Turmudzi memanggil saya masuk ke kamar beliau. Seperti biasa, beliau mencium ubun-ubun saya lalu menyampaikan wejangan:
"Semua ahzab dan aurad yang saya amalkan, saya ijazahkan (ijazatan-taukidan) agar diamalkan dengan istiqamah. Beberapa hizib, seperti Hizbul Barr, Hizbul Bahr, dan Hizbun Nashr, saya dapatkan ijazahnya dari Kiai Machrus Aly Lirboyo pada akhir dekade 1970-an saat salah satu Munas NU di Jawa Timur."
Bagi saya, ini bukan sekadar urusan hizib atau ijazah amalan, melainkan tentang bagaimana amalan mujahadah ruhaniyah seorang kader tidak pernah terlepas dari napas pengabdiannya kepada NU. Tidak ada topik perbincangan yang paling difavoritkan TG Turmudzi bersama para tamu selain perjuangan jam'iyyah Nahdlatul Ulama. Beliau tak pernah bosan berpesan kepada generasi muda NU agar tetap setia mengabdi serta bertanggung jawab merawat dan mengawal NU.
Dari Santri Kinasih hingga Mursyid Tarekat Khalwatiyah
Pada awal 1980-an, nama TG Turmudzi mungkin belum begitu familiar di panggung nasional. Namun di Bumi Sasak, sosoknya telah diakui oleh para tuan guru dan ustadz, khususnya para pengamal tarekat mu'tabarah. TG Turmudzi merupakan pemegang mata rantai kemursyidan Tarekat Khalwatiyah yang diterima dari gurunya, TG Saleh Hambali.
TG Turmudzi mengenang bahwa gurunya mengantongi enam kemursyidan tarekat mu'tabarah. Pada masa-masa itu, TG Turmudzi terbilang jarang keluar rumah. Beliau menjalani uzlah—menyepi dari keramaian—sebagaimana tradisi yang lazim dilakukan oleh para Tuan Guru di Lombok kala itu. Hanya tamu-tamu tertentu yang dapat menemui beliau saat masa penempaan batin tersebut.
Jauh sebelum itu, TG Turmudzi pernah bermukim di Tanah Haram selama sepuluh tahun (1952–1962). Di sana, beliau mengkhatamkan beberapa kitab monumental, salah satunya Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Syarafudin Nawawi di bawah bimbingan Sayyid Muhammad al-Maliki. Kepulangannya ke Lombok langsung diawali dengan sowan ke TG Saleh Hambali.
"Apa yang kamu dapatkan, Anakku?" tanya sang guru.
Dengan takzim TG Turmudzi menjawab, "Saat berziarah ke makam Rasulullah, tiang (dewek) di-talqin dzikir Laa ilaaha illallaah langsung oleh Baginda Nabi."
Mendengar penuturan santri kesayangannya itu, TG Saleh serta-merta memberikan ijazah kemursyidan Tarekat Khalwatiyah kepadanya. TG Turmudzi adalah salah satu santri kinasih (kesayangan). Cerita ini pernah disampaikan beliau kepada saya hingga lima kali—sebuah penekanan mendasar mengenai keabsahan sanad tarekat, di mana tidak sedikit orang alim tergoda memaksakan diri menjadi mursyid tanpa sanad dan izin dari seorang mursyid kamil.
Adapun TG Abhar (TG Abhar Muhyiddin dari Pesantren Darul Falah, Pagutan) menerima ijazah kemursyidan Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) dari TG Saleh Hambali dan KH Mustain Romly (Pesantren Darul 'Ulum, Rejoso, Jombang). Mengamati jaringan ini, pakar sosiologi Martin van Bruinssen pernah mencatat keberadaan TG Kholil Merembu sebagai khalifah dari KH Mustain Romly di Lombok.
Namun, ada satu dimensi historis yang kerap luput: Pesantren Rejoso, Jombang sejak masa KH Muhammad Romly Tamim telah menjadi destinasi utama para santri Lombok yang hendak menimba ilmu di tanah Jawa, jauh sebelum mereka tersebar ke pesantren-pesantren besar lainnya.
Dari Hasan Basri Menjadi Turmudzi
Lahir pada 1 April 1936, nama kecil TG Turmudzi adalah Hasan Basri. Beliau lahir dari pasangan Mamik Tuan Badaruddin bin Mamik Tuan Lalu Jamaluddin dan Hj. Aminah binti Haji Ridlawan—keluarga bangsawan Sasak (Perwangsa) dari Batu Tulis, Lombok Tengah.
Setelah menamatkan Sekolah Rakyat (SR) pada tahun 1944, Hasan Basri muda melanjutkan pendidikan ke Madrasah Mu'allimin Darul Qur'an di Bengkel, Lombok Barat, di bawah asuhan ulama karismatik TG Saleh Hambali. Saat menelaah kitab Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi di pesantren, telinga Hasan remaja kerap mendengar frasa hadis: haditsun hasanun shahihun, rawahu At-Tirmidzi. Dalam hatinya terbetik niat tulus untuk murni mengambil keberkahan dari sang perawi hadis agung tersebut.
Benar saja, ketika pulang dari Tanah Haram pada tahun 1962, pada koper pakaian dan oleh-olehnya telah tertulis nama baru: Haji Turmudzi. Nama tersebut bertabaruk langsung kepada Imam At-Tirmidzi (Abu 'Isa Muhammad bin 'Isa at-Tirmidzi).
Sekembalinya dari Mekkah, TG Turmudzi merintis berdirinya Pesantren Qomarul Huda pada tahun 1963. Di bawah keteguhan dan keistikamahan beliau, pesantren ini tumbuh secara bertahap namun pasti: mulai dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah, Aliyah (1984), hingga mendirikan perguruan tinggi.
Kitab Hidayatus Salikin Berjalan
Di kalangan para ulama dan tuan guru, TG Turmudzi dikenal sangat disiplin dalam beribadah. Beliau adalah penjelmaan dari amaliah yang konsisten. Banyak Tuan Guru menjuluki beliau sebagai "Kitab Hidayatus Salikin Berjalan"—mengacu pada kitab tasawuf karya Syekh Abdus Shamad al-Palimbani yang menyadur Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali tentang panduan adab dan ibadah harian dari bangun hingga tidur kembali.
TG Turmudzi selalu mengimami shalat berjamaah lima waktu di Masjid Baiturrahman yang terletak tak jauh dari kediamannya. Usai shalat, beliau memimpin wazifah dzikir Khalwatiyah, dilanjutkan mengajar Al-Qur'an dan kitab-kitab dasar kepada para santri dan jamaah.
Ketika fisiknya masih bugar, para tamu yang hendak sowan pada malam atau pagi hari biasanya menunggu beliau di masjid. Selepas Subuh, beliau memimpin dzikir, berdoa, dan mengajar hingga terbit matahari (syuruq). Setelah menunaikan shalat isyraq dan mengajar sejenak, barulah beliau kembali ke kediaman. Bahkan ketika usia sepuh menuntutnya duduk di kursi roda, beliau tetap memilih hadir berjamaah di masjid daripada shalat di rumah.
Penampilan publiknya yang sederhana, polos (beja), dan santun menjadi ceruk utama karismanya. Kesederhanaan sikap dan pemikiran yang berpadu dengan aura batiniah seorang mursyid Tarekat Khalwatiyah menjadikannya suluh dan rujukan spiritual—bukan hanya bagi masyarakat Pulau Lombok, melainkan juga secara nasional.
Salah satu teladan agung lainnya adalah kehangatan beliau dalam merawat silaturahmi. Daya ingatnya luar biasa tajam dalam mengenali siapa pun yang pernah ditemuinya. Beliau hampir tidak pernah menolak undangan syukuran atau perhelatan masyarakat selama fisik memungkinkan.
Kemarin, Kamis siang selepas dhuhur pukul 13.37 WITA, TG Turmudzi telah memenuhi panggilan Gusti Allah di RSUD Provinsi NTB. Beberapa bulan lalu (Juli–Agustus 2026), beliau sempat menjalani perawatan intensif di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, atas rekomendasi Menhan RI.
Selamat jalan, Datok... Fatihah.
Hasan Basri Marwah, penulis, pegiat, dan pemerhati budaya, tarekat, dan pesantren kelahiran Pagutan, Nusa Tenggara Barat
Terpopuler
1
Berikut Daftar Wakil Rais Aam PBNU Periode 2026-2031 Beserta Bidangnya
2
Gus Ipul: Jangan Campuradukkan Muktamar NU dengan Persoalan Lain
3
Khutbah Jumat: Jangan Putus Asa Mencari Rezeki Halal Saat Ekonomi Sulit
4
Prabowo Lantik Empat Wakil Menteri, Kepala BNPB, dan Pimpinan Badan Pengelola Gambut
5
Habib Umar bin Hafidz Kunjungi PBNU, Ada Tiga Agenda di Dalamnya
6
Khutbah Jumat: Hak atas Udara Bersih untuk Menjaga Kesehatan Pernapasan
Terkini
Lihat Semua