Obituari

Kiai Kita dari Bagu

NU Online  ·  Kamis, 15 Oktober 2026 | 20:01 WIB

Kiai Kita dari Bagu

Almarhum Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin. (Foto: Dok istimewa)

Orang-orang yang tulus menjalani hidup biasanya memiliki cara yang diam-diam dan menyejukkan ketika tiba waktunya berpamitan. Kamis, 15 Oktober 2026, pukul 13.37 WITA, kabar duka itu berembus dari ruang perawatan intensif RSUD Provinsi NTB di Mataram. Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin, atau yang akrab dan ditakzimi ribuan santri serta masyarakat dengan panggilan Datok Bagu, telah berpulang.


Usia beliau genap 90 tahun. Lahir pada April 1936 dari pasangan TGH Raden Badaruddin dan Hj. Aminah, perjalanan hidup Kiai Turmudzi merupakan bentangan panjang sejarah pengabdian. Di zaman yang bising oleh orang-orang yang berebut panggung dan keuntungan, menemukan sosok ulama sepuh yang tenang, ngemong, dan tidak silau oleh dunia terasa seperti menemukan oase. Datok Bagu adalah oase itu, mata air kesejukan bagi warga Nahdlatul Ulama, khususnya di Nusa Tenggara Barat.


Di Bagu, Lombok Tengah, beliau mendirikan sekaligus merawat Pondok Pesantren Qamarul Huda. Pesantren ini bukan sekadar deretan ruang kelas tempat kitab-kitab manahij dan aqaid dibaca serta dikaji. Di tangan Tuan Guru, pesantren itu menjelma menjadi suluh, tempat masyarakat desa dan para santri merawat keislaman yang matang: Islam yang mengajak, bukan mengejek.


Kedalaman spiritual dan kuatnya akar kultural Bagu bahkan dipahami oleh sahabat karib beliau, almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dalam pandangan Gus Dur, pesantren dan sosok Kiai Turmudzi merupakan jangkar penting bagi Nusantara. Gus Dur pernah bersaksi, “Jadi, Bagu itu buat NU adalah tempat bersejarah, tempat yang memiliki akar panjang.”


Kita tahu, ketika Gus Dur berbicara tentang “akar”, ia sedang berbicara tentang ketahanan batin dan kekuatan tradisi yang tidak mudah goyah diterjang perubahan zaman. Akar itulah yang membuat sebuah komunitas mampu bertahan, tumbuh, dan terus memberi makna bagi kehidupan di sekitarnya.


Di panggung besar Nahdlatul Ulama, Datok Bagu tidak dikenal sebagai sosok yang mengejar jabatan. Justru amanah organisasi yang datang kepadanya. Beliau berkali-kali dipercaya menjadi anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar NU. Bahkan, pada 30 September 2026, PBNU kembali menempatkannya sebagai Mustasyar PBNU masa khidmah 2026–2031. Sebuah amanah yang menegaskan posisinya di antara para ulama sepuh NU.


Mengapa PBNU begitu membutuhkan sosok seperti beliau? Jawabannya sederhana: umat membutuhkan keteladanan yang nyata. Tokoh-tokoh PWNU NTB pernah menyampaikan keyakinan mereka tentang sosoknya dengan tegas, “Tidak ada keraguan lagi pada sosok beliau dalam menjaga marwah NU.”


Bagi Kiai Turmudzi, organisasi adalah jalan pengabdian, bukan kendaraan untuk kepentingan pribadi. Di situlah letak wibawa yang tidak perlu dipamerkan. Ketika para pejabat dan pemimpin, termasuk Gubernur NTB yang mendampinginya pada saat-saat terakhir di rumah sakit, datang dengan penuh takzim, kita menyaksikan bagaimana otoritas moral seorang kiai yang tulus dapat melampaui sekat-sekat kekuasaan.


Kini, Kiai Turmudzi telah berpulang, menyusul sahabatnya, Gus Dur, ke hadirat Sang Maha Welas Asih. Bagi kita yang ditinggalkan, kepergian beliau menyisakan ruang kosong dan perih di dada. Namun, dari sosok Kiai Turmudzi, kita belajar bahwa seorang guru yang tulus tidak pernah benar-benar pergi.


Amal jariyahnya, senyumnya yang meneduhkan, serta doa-doa yang dipanjatkan sepanjang hayat akan terus mengalir. Semuanya menjadi mata air kebaikan yang tidak lekang oleh waktu, melintasi generasi demi generasi.


Sugeng tindak, Tuan Guru. Damailah dalam keluhuran yang abadi.


KH Ahmad Tajul Mafakhir, Rais Syuriyah PBNU

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang