Lebaran Sehat Tanpa Stroke, Nikmati Silaturahmi Tanpa Risiko
NU Online · Kamis, 19 Maret 2026 | 16:07 WIB
Heri Munajib
Kolomnis
Hari Raya Idul Fitri 1447 H sudah di ambang mata. Sebagai umat Muslim, kita tentu menyambutnya dengan gembira dan gegap gempita. Berbagai persiapan mulai dilakukan, mulai dari membersihkan makam keluarga, menyiapkan baju baru, hingga beragam hidangan untuk merayakan hari kemenangan. Kastengel, putri salju, nastar, emping melinjo, hingga kacang mede siap tersaji di meja hampir setiap rumah. Tak ketinggalan, minuman berkarbonasi sering kali hadir memeriahkan suasana.
Di balik kemeriahan tersebut, kita perlu waspada. Baik bagi orang sehat maupun mereka yang sudah memiliki faktor risiko penyakit, ada bahaya yang siap mengintai kesehatan. Makanan yang tersaji bisa menjadi kenikmatan, namun bisa juga berbuah "racun" yang berbahaya bagi tubuh.
Tren penyakit stroke saat hari raya dari tahun ke tahun selalu meningkat, dan ironisnya, usia pasien yang terkena stroke semakin muda. Banyak faktor yang memengaruhi mengapa hal ini terjadi. Stroke merupakan salah satu masalah kesehatan global penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia, termasuk di Indonesia. Prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terakhir menunjukkan angka yang signifikan, di mana 1 dari 3 orang berusia 45 tahun ke atas ditemukan mengidap stroke.
Penyakit stroke terbagi menjadi dua jenis, yaitu stroke pendarahan dan stroke sumbatan. Sekitar 70–80 persen pasien mengalami stroke sumbatan. Penyebabnya bisa dikategorikan ke dalam faktor risiko yang dapat dihindari dan yang tidak dapat dihindari.
Faktor risiko yang tidak dapat dihindari meliputi usia, jenis kelamin, keturunan, dan kondisi geografis. Sementara itu, faktor risiko yang dapat dikontrol di antaranya adalah hipertensi, merokok, kurang olahraga, diabetes, kolesterol tinggi, serta pola makan yang buruk.
Ketika berpuasa di bulan Ramadhan, tubuh mengalami proses "turun mesin" yang berdampak positif, seperti menurunnya tekanan darah serta kadar kolesterol dan gula darah yang lebih stabil. Namun, saat Idul Fitri tiba, banyak orang cenderung kembali ke kebiasaan lama: mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula secara berlebihan. Inilah yang meningkatkan risiko stroke secara mendadak.
Tradisi silaturahmi sering kali membuat seseorang tidak sadar akan apa yang dikonsumsi. Hidangan seperti opor ayam, rendang, dan kue-kue manis memang menggugah selera. Namun, jika tidak dikontrol, makanan ini dapat memicu lonjakan tekanan darah, kolesterol, dan gula darah. Kondisi ini diperburuk dengan konsumsi minuman berkarbonasi yang jika dilakukan jangka panjang dapat mempercepat pengeroposan tulang (osteoporosis).
Mengenali Gejala Stroke dengan Metode BEFAST
Bagaimana cara kita mengenali gejala stroke sejak dini untuk mengurangi risiko kecacatan atau kematian pada sanak saudara? Metode BEFAST adalah panduan praktis yang bisa kita gunakan:
Pertama, balance (keseimbangan): Kehilangan keseimbangan secara mendadak, terasa pusing seperti diombang-ambing di atas kapal, atau pandangan dunia terasa berputar (vertigo mendadak).
Kedua, eyes (mata): Pandangan kabur, buram, atau penglihatan ganda (diplopia) yang terjadi secara tiba-tiba.
Ketiga, face (wajah): Wajah tampak tidak simetris, mulut merot, atau terasa kesemutan pada setengah bagian wajah secara mendadak.
Keempat, arms (lengan & kaki): Anggota gerak lemas, sulit digerakkan, atau kesemutan pada setengah sisi tubuh secara mendadak.
Kelima, speech (bicara): Kesulitan berbicara, bicara tidak jelas, atau pelo secara mendadak.
Keenam, time (waktu): Jika mengalami gejala tersebut, segera cari pertolongan medis. Bagi dokter spesialis neurologi, "Waktu adalah Otak".
Jika menemukan seseorang dengan gejala di atas, segera bawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan cepat dan tepat.
Tips Lebaran Nikmat Tanpa Risiko Stroke:
Kendalikan Porsi Makan: Hindari konsumsi makanan berlemak dan manis berlebihan. Istilah Jawanya, cukup tombo incip (obat mencicipi) saja sebagai penghormatan kepada tuan rumah.
Tetap Aktif Bergerak: Jangan tinggalkan olahraga meski sedang libur. Minimal berjalan 7.000–10.000 langkah setiap hari. Anda juga bisa mencoba intermittent walking (jalan santai 3 menit dilanjutkan jalan cepat 3 menit, durasi minimal 30 menit).
Minum Air Putih yang Cukup: Pastikan tubuh tetap terhidrasi dengan mengonsumsi air putih 1,5–2 liter per hari.
Batasi Garam dan Gula: Kurangi makanan pemicu hipertensi dan diabetes. Ingatlah kalori dalam sebutir nastar sebelum mengambilnya berkali-kali.
Rutin Cek Kesehatan: Periksa tekanan darah dan kadar kolesterol secara berkala, terutama setelah jadwal silaturahmi yang padat.
Manajemen Stres: Kelola stres dengan baik. Data menunjukkan stroke pada usia muda banyak didominasi oleh manajemen stres dan konflik yang buruk.
Hari Raya Idul Fitri seharusnya menjadi momen silaturahmi yang bahagia, bukan awal dari masalah kesehatan. Dengan pola makan, gaya hidup sehat, dan manajemen stres yang baik, kita tetap bisa menikmati hari kemenangan tanpa bayang-bayang stroke.
dr. Heri Munajib, Sp.N., Pengurus Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU), pengurus Pimpinan Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU), Praktik di RSUD Ibnu Sina Gresik dan RS Semen Gresik
Terpopuler
1
Niat Zakat Fitrah Lengkap untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Orang Lain yang Diwakilkan
2
Khutbah Idul Fitri: Menjaga Fitrah Setelah Ramadhan Berlalu
3
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
4
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
5
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
6
Khutbah Idul Fitri: Hari Kemenangan untuk Kebebasan Masyarakat Sipil
Terkini
Lihat Semua