Pendidikan Islam

YPM Sepanjang Sidoarjo ini Menaungi 28 Sekolah

Senin, 6 Juli 2015 | 02:35 WIB

Yayasan Pendidikan Ma'arif (YPM) Sepanjang Sidoarjo ini telah berusia 51 tahun. Di usia yang matang YPM mampu menjawab tantangan zaman dan terus berkembang dari waktu ke waktu. Mari sejenak berkunjung ke yayasan yang menaungi 28 sekolah ini. <>

Berdirinya YPM Sepanjang ini, tidak lepas dari LP Ma'arif Cabang Sidoarjo. Pada tahun 1961 tepatnya pada tanggal 10 September. Alm Kiai Nur Yahya, yang pada waktu itu menjadi Ketua PC LP Ma'arif Sidoarjo, memerintahkan kepada KH Hasyim Latief untuk mendirikan sekolah atau madrasah lanjutan (MTs) di daerah Kawedanan Taman. Karena pada waktu itu, LP Ma'arif Sidoarjo telah berkali-kali mendirikan pendidikan tingkat lanjut, tapi hanya bertahan dua tahun saja.

Tugas itu disambut baik oleh KH Hasyim Latief dan teman-temannya, meskipun dengan berat hati, karena tugas itu terasa berat baginya, sehingga Aba Hasyim panggilan akrab KH Hasyim Latief, memberikan syarat.

"Saya siap menerima amanah ini, tapi saya minta kepada seluruh sekolahan ibtidaiyah mendukung dan mengirimkan lulusannya," kata Ahmadi Manab, BA dengan menirukan pembicaraan Aba Hasyim pada waktu itu.

Tugas tersebut tidak langsung terealisasi dengan begitu saja. Banyak tantangan yang dihadapi oleh Aba Hasyim. Aba Hasyim harus mencari tanah terlebih dahulu untuk dijadikan tempat belajar. Pada tahun 1962 Aba Hasyim dan panitia ingin menggunakan bangunan bekas kamar pondok di sebelah utara masjid Riyadhus Sholihin Wonocolo Taman.

"Kamar tersebut sudah lama kosong tidak ada yang menempatinya, akan tetapi ta'mir masjid tidak mengijinkan kalau dibuat madrasah atau sekolahan. Inilah tantangan yang harus dihadapi oleh Aba Hasyim," lanjut Ahmadi yang juga menjabat sebagai sekretaris yayasan.

Setelah menemui tantangan itu, dengan semangatnya Aba Hasyim tidak pernah putus asa. Dia terus berusaha, pada akhirnya, tahun 1964 ta'mir masjid mengijinkan kamar pondok yang kosong itu, dijadikan tempat belajar para siswa lanjutan (MTs). Pada tahun itu juga, tahun ajaran baru di buka dan diresmikan oleh Bupati tinggkat dua Sidoarjo, juga di hadiri oleh Ketua PP Ma'arif NU dan diberi nama Madrasah Menengah Pertama (MMP).

Perjuangan untuk mengangkat derajat pendidikan warga NU di sekitar Sidoarjo tidak berhenti di sana saja, melainkan kiai kelahiran tahun 1928 itu, terus mengembangkan MMP yang telah ia dirikan bersama teman-temannya. Murid pertamanya mencapai 85 siswa. Hanya selang setahun tepatnya pada tahun 1965, Aba Hasyim membangun gedung baru di sebelah timur bangunan yang ada.

"Adanya pembangunan gedung baru dikarenakan gedung bekas kamar pondok itu, sudah tidak bisa menampung banyaknay siswa yang ada," terang Ahmadi.

Usaha dan cerih payah Aba Hasyim membuahkan hasil. Masyarakat di sekitar YPM mempercayai lembaga yang di besarkan oleh orang tua Gus Maki ini. Dengan kepercayaan itu maka Aba Hasyim mendidirikan Madrasah Menengah Atas (MMA) dan perguruan tinggi.

Pendidikan Berbasis Sosial dan Agama

Matahari mulai menyapa dunia dengan senyumannya, itu bertanda dimulainya aktifitas semua penduduk di kota Sidoarjo. Berbagai persiapan pun dilakukan, ada di antara mereka yang berpakaian kemaja dengan dasi di dadanya, ada juga yang berpakaian putih berpadu dengan celana biru dan abu-abu. Arus jalan raya ngelom tak terhindari dari kemacetan di saat semua siswa-siswi memasuki gerbang sekolah YPM Sepanjang.

Dengan pintu utama yang berukuran kurang lebih tujuh meter itu, mampu di lewati oleh siswa dengan jumlah lebih dari lima belas ribu siswa-siswi. Banyak orang beranggapan kalau sekolahan YPM Sepanjang itu kecil.

"Kalau orang yang tidak tahu pasti beranggapan sekolah ini kecil, dilihat dari pintu gerbangnya saja seperti itu, tapi kalau kita masuk sampai belakang. Ya, seperti ini. Dengan luas bangunan 7000 meter persegi," kata H Ach Syarifuddin SH MH kepada NU Online saat mengelilingi lima sekolahan yang ada di dalam Yayasan Pendidikan Ma'arif Sepanjang itu.

Kegiatan ekstrakulikuler (ekskul) yang diadakan oleh pihak yayasan sangatlah tertata bagus, baik dan rapi. Semua kegiatan ekskul yang ada di YPM Sepanjang ini, berbasis sosial dan agama.

"Untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang berbasis sosial dan agama, menjadi perhatian yayasan. Entah kegiatan tersebut, sudah termasuk kurikulum Dinas Pendidikan atau Departemen Agama," kata pria yang juga menjabat sebagai wakil sekretaris yayasan itu.

Saat NU Online mengelilingi lima sekolahan, yaitu SMA Wahid Hasyim, SMK YPM 3, SMP YPM, SMK YPM 1, SMK YPM 2, menjadi satu di Jalan Raya Ngelom 86 Sepanjang itu, terlihat ada sebagian siswa dan siswi melakukan sholat dhuha berjama'ah di musollah di saat jam istirahat. "Kami melarang siswa pulang sebelum sholat dhuhur dan ada juga sebagian siswa yang pulang sampai asar. Ya, mungkin mereka kerasan di sini," lanjut pria yang berusia 61 tahun itu.

Unit pendidikan yang berada di naugan YPM Sepanjang ini, meliputi Play Grup, TK, SD, SMP tujuh unit, MTs dua Unit, SMA empat unit, SMK Sembilan unit. Di setiap sekolahan yang berada di bawah asuhan YPM Sepanjang ini, memiliki kelengkapan mulai dari fasilitas, kurikulum sekolah dan kegiatan ekskul. Semua kegiatan ekskul hampir semua diminati oleh siswa mulai dari Bakhti Sosial (Baksos) yang dilakukan oleh siswa Osis, olah raga, Palang Merah Remaja (PMR), Pecinta Alam dan jurnalis.

Selain baksos ada juga kegiatan ekskul yang mengarah kepada keagamaan seperti qiroah dan pelatihan merawat jenazah. "Di YPM Sepanjang ini, ada program membaca Al Qur'an bagi siswa-siswi kelas satu SMP, SMA dan SMK, program ini bermaksud untuk mengetahui apakah mereka sudah bisa membaca Al Qur'an dengan baik dan benar" tandasnya.

Tes itu tidak berhenti sampai di sini saja. Dari pihak sekolah akan memberikan bimbingan sesuai dengan kemampuan bacaan siswa tersebut. "Dengan program ini yayasan berharap lulusan YPM Sepanjang bisa membaca Al Qur'an dengan baik dan benar," tegasnya.

YPM Sepanjang telah membuka perguruan tinggi untuk menampung para siswa yang ingin melanjutkan keperguruan tinggi. YPM Sepanjang memiliki beberapa perguruan tinggi yang berbeda-beda. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi, Sekolah Tinggi Ilmu Hukum, Sekolah Tinggi Teknik, Akademik Analisis Kesehatan YPM. Sekolah tinggi tersebut, peninggalan KH Hasyim Latif, pada waktu itu, Aba Hasyim menginginkan siswanya menpunyai kemampuan yang berbeda-beda.

Kini Yayasan Pendidikan Ma'arif berhasil menjadikan satu pendidikan Islam menjadi Universitas Ma'arif Hasyim Latif Sepanjang. (Rofii Boenawi/Anam)

Terkait

Pendidikan Islam Lainnya

Lihat Semua