Bagaimana Pesantren Menghadapi Kompetisi Ekonomi ASEAN?
NU Online · Senin, 19 Januari 2015 | 23:35 WIB
Sleman, NU Online
Dalam diskusi yang mengangkat tema “ASEAN Economic Community dan Pesantren”, di Pesantren Aswaja Nusantara Sleman Yogyakarta, Sabtu (17/01), Mustafid, pengasuh pesantren sekaligus narasumber mengungkapkan bahwa pesantren tidak pernah dihitung sebagai sebuah kekuatan ekonomi.
<>
“Justru pesantren dikenal oleh orang-orang luar termasuk golongan radikalisme dan terorisme. Dan pesantren yang mempunyai kekuatan ekonomi, maka ia akan kuat. Ini realitas yang menyakitkan, tetapi setelah kita renungkan, memang pesantren kadang kala terkendala dalam hal dana saat mau ada agenda,” ungkap Mustafid kepada peserta diskusi.
Ia berpendapat bahwa lulusan pesantren bukan hanya rendah tingkat kompetisinya, tetapi kehilangan pasar kerja domestik. Maka, pesantren tidak masuk dalam pertarungan Masyarakat Ekonomi ASEAN.
“Bagaimana pesantren harus menghadapi kompetisi ekonomi ASEAN? Ada beberapa hal yang harus dilakukan. Pertama, Pesantren harus siap berkompetisi dengan para ahli lain. Kedua, menciptakan produk-produk yang spesifik di pasar regional. Maka ini harus ada pembicaraan yang lebih mendalam soal produk apa yang harus dihasilkan oleh pesantren,” tambahnya.
“Kalau pesantren hanya sekadar berbicara soal halal dan haram, maka tidak bisa untuk mengikuti MEA,” tandasnya.
Hamim, peserta diskusi juga mengungkapkan, untuk membangun kekuatan ekonomi pesantren, harus membuat perkumpulan untuk penangguhan ekonomi. “Seperti halnya Himpunan Pengusaha Santri (Hipsi), itu merupakan sebuah langkah yang bagus untuk pesantren dan santri. Santri harus diajarkan entrepreneurship (kewirausahaan),” ungkapnya.
Mustafid menawarkan pembangunan yang harus dilakukan oleh pesantren, yaitu kemandirian. “Pesantren mempunyai kemandirian. Selama pesantren memutus ketergantungan dari luar, maka pesantren akan lebih kuat. Karena selama ini pesantren lebih banyak menyerap potensi dari luar daripada potensi dari dalam,” ujar Mustafid. (Nur Sholikhin/Mahbib)
Terpopuler
1
PWNU dan PCNU Se-DIY Tolak Politik Uang dalam Proses Muktamar NU
2
Lima Kelompok Ini Perlu Jadi Perhatian NU dalam Putusan Muktamar Ke-35 di Tambakberas
3
Data Terbaru Gempa M7,7 NTT: 54 Meninggal Dunia, 199 Luka-Luka, 9 Ribu Warga Mengungsi
4
Khutbah Jumat: Memasuki Bulan Maulid, Sudahkah Kita Meneladani Akhlak Rasulullah?
5
RAPBN 2027 Dana Pendidikan Rp240 Triliun untuk MBG, JPPI: Jangan Pelintir Putusan MK
6
Iuran Lomba 17 Agustus: Gotong Royong atau Justru Bisa Jadi Judi? Ini Batas Hukumnya
Terkini
Lihat Semua