“The Lamp”, Ingin Satukan NU-Muhammadiyah lewat Lukisan
NU Online · Selasa, 18 Desember 2007 | 10:19 WIB
Benar. Banyak jalan menuju Roma. Banyak pula cara untuk menyatukan perbedaan. Termasuk di antaranya melalui lukisan. “The Lamp”, begitu sang pelukisnya, Dukan Wahyudi, memberi nama pada karya seninya.
Pelukis asal Surabaya, Jawa Timur, itu ingin menyatukan perbedaan-perbedaan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah lewat sapuan warna-warni cat di atas kanvasnya. Sebuah obsesi yang berangkat dari ide dan gagasan yang patut dihargai.<>
Cukup sederhana caranya untuk mewujudkan keinginannya itu. Dua wajah pendiri dan pemimpin kedua organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu, KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) ia lukis di dalam satu bingkai.
Uniknya, di atas kedua tokoh besar yang juga pahlawan nasional itu ditambah gambar lampu, masing-masing memancarkan cahaya terang. Hanya saja yang membedakan, lampu teplok yang posisinya berada di atas KH Hasyim Asy’ari, cahayanya berwarna kuning-kehijau-hijauan. Sementara, lampu jenis petromaks di atas KH Ahmad Dahlan memancarkan cahaya kebiru-biruan.
“Kalau masih ada perbedaan-perbedaan yang terus diperdebatkan, berarti ada ruang gelap di antaranya. Makanya, kita harus menyalakan lampu untuk menerangi ruang gelap itu,” ujar Wahyudi di Kantor Centre for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta, Selasa (18/12)
Ia mengatakan hal itu dalam sambutannya sebelum menyerahkan hasil karyanya kepada dua tokoh NU dan Muhammadiyah, KH Solahuddin Wahid (Gus Solah—mantan ketua Pengurus Besar NU) dan Din Syamsuddin (Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah).
Gus Solah, dalam acara yang juga dihadiri beberapa tokoh NU dan Muhammadiyah lainnya itu, mengaku tertarik dengan ide Wahyudi yang dituangkan dalam bentuk karya seni rupa. Menurutnya, dua tokoh yang di dalam lukisan itu mewakili model Islam Indonesia yang moderat.
“Dua-duanya juga mendirikan organisasi yang kini menjadi organisasi besar. Namun, keduanya memiliki cara dan ciri khas yang berbeda dalam membesarkan organisasinya dan dalam berdakwah,” ujar Gus Solah yang juga cucu KH Hasyim Asy’ari dan adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Ia mengakui, antara NU dan Muhammadiyah, saat ini, sudah relatif tidak ada perbedaan. Kalaupun ada, hal itu lebih diakibatkan persoalan politik praktis dan masih bersifat internal. “NU rebut dengan partai yang didirikannya. Muhammadiyah juga begitu,” katanya.
Sementara itu, Din Syamsuddin, dalam sambutannya, mengungkapkan, bangsa Indonesia akan berbeda ceritanya bila tidak ada dua tokoh tersebut. “Seperti pesan yang ingin disampaikan dalam lukisan ini, Hadratus Syeikh KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan merupakan pelita yang menyinari dan menerangi bangsa ini,” ungkapnya. (rif)
Terpopuler
1
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
2
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
3
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
4
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
5
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
6
Ketum PBNU: Barokah Kiai Sepuh, Munas dan Konbes NU di Ploso Berjalan Sukses
Terkini
Lihat Semua