Bersih Secara Kimiawi Belum Tentu Air Suci
NU Online · Senin, 31 Juli 2006 | 15:13 WIB
Surabaya, NU Online
Dalam Islam, dikenal beberapa kategori air seperti air suci yang mensucikan atau thahir-muthahhir, Air suci tapi tidak mensucikan maupun air yang najis. Hanya air yang suci dan mensucikanlah yang dapat digunakan untuk berwudlhu atau membersihkan diri dari hadast kecil dan hadast besar.
Teknologi pemurnian air saat ini telah memungkinkan air yang kotor, bau dan mengalami perubahan rasa akibat kandungan kotoran bisa dirubah lagi menjadi air yang bersih dan sehat secara kimiawi. Lalu, apakah status air ini menjadi air suci menurut pandangan Islam dan dapat digunakan untuk menghilangkah hadast?
Komisi bahstul masail diniyah waqiiyyah dalam munas NU di Surabaya berpendapat bahwa status air tersebut masih merupakan air yang najis kecuali telah mencapai 2 kullah (sekitar 180 liter) atau lebih.
Pertanyaan senada pernah dibahas dalam bahtsul masail diniyah dalam Muktamar NU ke 28 di Ponpes Krapyak Yogyakarta. Pertanyaan yang diajukan adalah, bagaimana hukumnya air hasil pengolahan tetapi memiliki kelainan rasa, bau maupun warna?
Keputusan yang diambil adalah air tersebut dianggap sebagai air mutlak karena proses kimiawinya tidak merubah kemutlakan atau sifatnya air tersebut selama perubahannya tidak terlalu berat. (mkf)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Beribadah Bukan Transaksi, Meluruskan Hubungan antara Hamba dengan Tuhan
2
Khutbah Jumat: Spirit Sumpah Pemuda, Jangan Bungkam Suara Anak Muda yang Peduli Bangsa
3
Khutbah Jumat: Pentingnya Menolong Tetangga di Tengah Kesulitan Ekonomi
4
Khutbah Jumat: 3 Alasan Pemerintah Wajib Mendengarkan Aspirasi Rakyat
5
NU Online Raih AMSI Awards 2026 Kategori Inovasi Strategi dan Engagement Terbaik
6
PBNU Terima Kunjungan BTN dan BSN, Bahas Akses KPR Subsidi bagi Warga NU
Terkini
Lihat Semua