Fatayat NU: Hari Ibu Sebagai Pemicu Kemandirian
NU Online · Senin, 22 Desember 2008 | 05:02 WIB
Ketua Pucuk Pimpinan Fatayat NU Bidang Ekonomi dan Sosial Maria Adfianti, SP mengingatkan kepada Kader Fatayat agar peringatan Hari Ibu ke-80 tahun ini bisa menjadi pemicu kemandirian. Pasalnya berbagai krisis ditengarai bisa memporak-porandakan berbagai sisi kehidupan, termasuk ketahanan keluarga.
“Ketika minyak tanah langka, harga pokok melambung, Ibu-ibu Fatayat tidak perlu risau karena sudah memiliki jiwa kemandirian,” papar Fifi -panggilan akrab Maria Adfianti- saat berbincang-bincang dengan NU Online di sela-sela pelatihan Masal Pembuatan Roti di Gedung NU Slawi, Jateng, Ahad (21/12).<>
Dengan kemandirian, Fatayat bisa menempatkan diri sebagai perempuan yang berkarya di masyarakat juga mengabdi suami dan anak-anak di dalam rumah. “Kemandirian menciptakan keseimbangan antara kegiatan di luar dan di dalam rumah,” ujarnya.
Berbagai kegiatan untuk mendongkrak kemandirian antara lain dengan melibatkan diri diberbagai sektor garapan. Misalnya, terlibat dalam UKM, pendidikan, dan kesehatan.
Upaya tersebut telah dihantarkan oleh Pengurus Fatayat Pusat dalam berbagai programnya antara lain dalam bidang Kesehatan, Fatayat menggiatkan Kesehatan Reproduksi (Kespro), Kesehatan Lingkungan (Kesling) dan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). “Dengan kesehatan yang paripurna, tidak memberatkan orang lain,” ucapnya.
Dari berbagai program tersebut, sebagian telah diterjemahkan oleh PC-PC seluruh Indonesia dengan disesuaikan situasi dan kondisi. PC Fatayat Kab. Tegal misalnya telah eksis dengan program Aksi Stop Aids (ASA).
Termasuk, Ibu-ibu muda yang membanting tulang sebagai TKW, Fatayat melakukan pendampingan. Ikhtiar TKW ke luar negeri, pada intinnya untuk membangun kemandirian keluarga dalam bidang ekonomi. Tapi ketika terjadi penipuan terstruktur berupa traficking, maka Fatayat melakukan advokasi.
Advokasi tersebut, ternyata telah membuahkan hasil seperti pendampingan TKW di Hongkong yang membuahkan berdirinya Fatayat Cabang Internasional. “Dengan Cabang Internasional ini, advokasi TKW di Hongkong cepat direspon Kedutaan Besar di sana,” ungkap Fifi.
Usaha produktif juga giatkan seperti pertumbuhan Koperasi Jasmine. Berbagai pelatihan juga diupayakan secara berkelanjutan dengan melihat potensi daerah masing-masing. Seperti di Indramayu dengan pertanian organik, di Sidoarjo dengan Kelompok Wanita Tani, Jakarta Timur dengan Manik-maniknya dan lain-lain.
Sementara di mata Ketua Umum PC PMII Kab. Tegal Ma'adah Abdullah, perjuangan seorang ibu tak bisa terbandingkan. Maka layak sosok Ibu harus diagungkan dalam bentuk dan suasana apapun. “Terlalu naif kalau Ibu dihinakan oleh perilaku anak-anaknya,” tutur Ma'adah yang kini masih menjadi Mahasiswa STAIBN Slawi itu. (was)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Memulai Kebaikan dari Diri Sendiri
2
Khutbah Jumat: Allah Tidak Membebani Hamba di Luar Batas Kemampuannya
3
Kontroversi Gerbong Perempuan, Menteri PPPA Klarifikasi dan Sampaikan Permohonan Maaf
4
Respons Wacana Penutupan Prodi yang Dinilai Tak Relevan, LPTNU Tekankan Kebijakan Komprehensif
5
Data Terbaru Kecelakaan Kereta: 16 Orang Meninggal Dunia
6
Cerita Pilu Ibu Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur: Anak Saya Terbalik Kepala di Bawah
Terkini
Lihat Semua