Habib Luthfi: Faham Sejarah, Tumbuhkan Rasa Nasionalisme
NU Online · Rabu, 19 Oktober 2011 | 10:16 WIB
Demak, NU Online
“Jane Nasionalisme iku ono dalile opo ora? (Sesungguhnya nasionalisme itu ada dalilnya apa tidak).?” Demikian pertama kali Ucapan yang disampaikan Habib luthfi bin Yahya Dari Pekalongan saat menyampaikan tausiah di hadapan ribuan jamaah di Demak (15/10).
Pernyataan ini disampaikan Habib Luhfi pada acara Istighotsah dan Maulidurrasul SAW saat peringatan Hari Ulang Tahun ke 66 TNI di Makodim 0716 Demak yang terselenggara atas kerjasama PCNU, GP Ansor Demak dan TNI.<>
Habib Luthfi merasa rasa nasionalisme pada anak bangsa sekarang mengalami degradasi, sehingga kondisi bangsa tersasa sangat memperihatinkan.
"Apalagi sekarang dengan perilaku kehidupan yang semakin semrawut, akhlaq tidak lagi jadi tumpuan," tutur Habib Luthfi.
Karenanya, Habib mengajak pada jamaah untuk merefleksi sejarah dan mengenang riwayat para pendiri bangsa. Menurutnya, sejarah adalah salah satu alat untuk bisa membangkitkan rasa nasionalisme yang tinggi.
“Kenalkan sejarah pada anak-anak muda, maka akan muncul rasa nasionalisme dan bisa menghargai para pendiri bangsa, muncul fanatisme pada bangsa” ajaknya.
Habib juga menceritakan sejarah Nabi dengan Piagam Madinah, di mana Nabi dengan menggunakan trik mengalah untuk menang.
"Keterlibatan Ulama, Kiai seperti Mbah Kholil Bangkalan Madura dan rakyat membaur jadi satu saat merebut kemerdekaan RI, sampai juga pada saat Resolusi Jihad dikumadangkan Rois Akbar Hadrotus Syaih Hasyim Asy’ari untuk melawan kedatangan sekutu yang membonceng NICA serta saat merebut bendera dan bangsa ini," tandas habib Luthfi.
Para anggota Banser dan TNI, lanjut Habib, saling berpinggulan hanya untuk mengibarkan Merah Putih, dan merobek warna biru milik Belanda, yang akhirnya berkibarlah Merah Putih walau di tebus dengan darah dan nyawa para pejuang. Inilah dasar atau dalil yang terangkum dalam sejarah bangsa.
“Bangga terhadap Indonesia bukan sombong, tapi rasa syukur pada Allah SWT, hormat pada merah putih itu bukan syirik. Tapi ungkapan rasa syukur pribadi pada Allah SWT untuk memiliki bangsa indonesia” Katanya.
Diakhir tausiyahnya habib luthfi berpesan pada jamaah untuk mengingatkan kembali setidaknya pada keluarga untuk menghormati pada para pejuang bangsa dan menanamkan sejak dini bangga manjadi bangsa Indonesia.“ Islam itu Rahmatan Lil Alamin, Indonesia tidak mungkin jadi Negara Islam, mari kita saling menghormati,” Pesannya.
Redaktur : Syaifullah Amin
Kontributor : A. Shiddiq Sugiarto
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
4
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
5
Cara Penguburan Ikan Sapu-Sapu oleh Pemprov DKI Dapat Kritik dari MUI
6
Benarkah Pendiri PMII Hanya 13 orang?
Terkini
Lihat Semua