Dekan Fakultas Islam Nusantara Unusia Sebut Ada Kebangkitan Spiritualitas dan Agama
NU Online · Senin, 20 April 2026 | 20:00 WIB
Jakarta, NU Online
Globalisasi tidak hanya berdampak pada ketegangan dan perang, tetapi juga menguatnya neoliberalisme. Muncul pula apa yang disebut global north dan global south yang menandakan kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang yang kian dalam.
Fenomena lain yang muncul adalah tumbuhnya spiritualitas dan agama yang terlibat dalam pengambilan keputusan secara langsung di berbagai jenjang dan tingkatan politik dalam upaya mengatasi ketegangan, perang dan kesenjangan global tersebut.
Hal itu disampaikan Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama (Unusia), kepada NU Online pada Senin (20/4/2026).
Suaedy mengamati pergeseran peran spiritual dan agama global saat melakukan riset tentang Konfusianisme di negara China dan perbandingannya dengan Aswaja Nusantara di Indonesia selama sebulan, 1 - 31 Maret 2026. Riset itu dilakukan di China Confucius Foundation dan Nishan World Center for Confucius Studies di Kota Jinan, Provinsi Shandong, China bagian timur laut.
Sebelumnya, Suaedy telah menulis tentang “Aswaja Turn” dalam fenomena Indonesia, yaitu kembalinya Aswaja Nusantara –sebelumnya disebut sebagai Islam tradisionalis– yang didiskriminasi oleh kolonialisme dan modernisme, ke ruang publik sebagai mainstream dalam berbagai keputusan politik.
Suaedy menjelaskan bahwa pada era sebelum kolonial, Konfusianisme dan Aswaja Nusantara menjadi mainstream dan sirkel elite dalam kepemerintahan kerajaan atau dinasti di kedua negara tersebut.
"Namun dengan sekularisasi yang dibawa oleh kolonial Barat, keduanya disingkirkan dari ruang publik. Meskipun tidak keseluruhan wilayah negara, Portugis, Italia, dan Jepang pernah menjajah negara itu," katanya.
Pada saat penjajahan tersebut, Konfusianisme disingkirkan dari ruang publik dan disusul modernisasi intern. Penyingkiran terhadap Konfusianisme berlanjut, terutama pada era di bawah kekuasaan Mao Zedong (1 Oktober 1949 - 9 September 1976) yang memimpin Komunisme antiagama dan spiritualitas secara ketat.
"Praktis pada masa itu, Konfusianisme juga agama yang lain ditindas dan bahkan dihilangkan. Sebegitu traumanya masyarakat China sehingga menyebut era itu sebagai Abad Penghinaan," ujarnya.
Namun Konfusius pelan-pelan kembali menjadi dasar bagi kebijakan politik di China sejak Deng Xiaoping memimpin Negeri Tirai Bambu itu.
Presiden Xi Jinping kembali mendesakkan lebih deras nilai-nilai dan etika dalam konteks Marxisme menjadikan Konfusianisme dalam sistem politik seperti pemberantasan korupsi, kesetaraan, pemerataan dan keadilan ekonomi, meritokrasi yang ketat, juga inovasi teknologi yang berbeda prinsip dengan kapitalisme, dan sebagainya.
Sementara itu, hal serupa juga terjadi dalam konteks Aswaja Nusantara di Indonesia. Sejak kolonialisme, para kiai dan ulama pemimpin Aswaja Nusantara disingkirkan dari sirkel elit kekuasaan dan didorong ke pinggiran.
"Sistem pendidikan pesantren selama lebih dari dua abad disingkirkan ke pinggiran dalam sistem pendidikan Indonesia hingga lahirnya UU Pesantren tahun 2019," kata Ketua PBNU itu.
Ia menyampaikan bahwa Orde Baru selama 32 tahun praktis menyingkirkan Nahdlatul Ulama dan pesantren sebagai basis Aswaja Nusantara dan tidak diberi kesempatan untuk berkembang dan mengembangkan pengaruh dan kepemimpinan. Namun pasca Reformasi, dengan berbagai saluran, pemeluk Aswaja Nusantara nyaris mendominasi perpolitikan Indonesia meskipun tidak memegang kekuasaan politik puncak.
Suaedy melanjutkan bahwa Konfusianisme oleh masyarakat China tidak dianggap agama melainkan spiritualitas dan Konfusius pendirinya dianggap sebagai Guru bukan Nabi. Karena itu, di China, tidak ada tempat ibadah Konfusius atau Konfusianisme melainkan tempat berkumpul atau meditasi berefleksi bersama.
Meskipun demikian, ia menyampaikan bahwa China mengakui lima agama minoritas lainnya yang dijamin keberadaannya, yaitu Islam, Budha, Protestan, Katolik, dan Taoisme.
Suaedy sendiri mengaku sempat shalat Idul Fitri di masjid yang usianya 500 tahun di kota Jinan. Secara arsitektur, masjid itu masih utuh meskipun sudah direnovasi beberapa kali karena usia. Hadir 1000-an umat Muslim dalam shalat Idul Fitri tersebut.
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
4
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
6
Bahas Konflik Iran, Ketum PBNU Lanjutkan Safari Diplomatik ke Dubes China
Terkini
Lihat Semua