Pengamat: Lowongan Minim dan Gaji Rendah Jadi Tantangan Fresh Graduate
NU Online · Senin, 20 April 2026 | 08:00 WIB
Ayu Lestari
Kontributor
Jakarta, NU Online
Kesulitan mencari pekerjaan setelah lulus kuliah masih menjadi persoalan serius. Fenomena ini diperparah oleh kecenderungan perusahaan yang lebih memilih kandidat berpengalaman guna menekan biaya pelatihan dan meningkatkan produktivitas sejak awal.
Sejumlah survei menunjukkan, banyak lowongan entry-level mensyaratkan pengalaman kerja yang relatif tinggi. Padahal, secara umum, posisi tersebut seharusnya ditujukan bagi pelamar dengan pengalaman kurang dari satu tahun.
Pakar Kebijakan Publik sekaligus dosen Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Fire An Suprapto, menilai kondisi ini mencerminkan ketidaksesuaian antara definisi entry-level di pasar kerja dan praktik yang terjadi di lapangan.
“Hal ini berkaitan dengan tekanan perusahaan untuk mengurangi biaya rekrutmen dan pelatihan, serta memanfaatkan tenaga kerja yang sudah memiliki keterampilan praktis,” ujarnya kepada NU Online, Senin (20/4/2026).
Menurutnya, sebagian perusahaan juga ingin memastikan karyawan baru dapat segera beradaptasi tanpa membutuhkan proses pembinaan yang panjang.
Ia menambahkan, faktor ekonomi turut memengaruhi kebijakan tersebut. Dalam situasi ketidakpastian global, banyak perusahaan berupaya menekan biaya operasional dan meminimalkan risiko dengan merekrut tenaga kerja berpengalaman.
“Strategi perusahaan juga berperan karena mereka ingin memastikan kandidat memiliki kemampuan yang dapat langsung diterapkan, terutama di lingkungan yang kompetitif,” tambahnya.
Di sisi lain, penetapan gaji bagi fresh graduate dinilai belum mencerminkan nilai pendidikan maupun biaya hidup. Banyak posisi entry-level menawarkan gaji setara upah minimum atau sedikit di atasnya.
“Gaji seharusnya cukup untuk mempertahankan tenaga muda, mendorong peningkatan kompetensi, serta mencerminkan produktivitas dasar,” ujarnya.
Fire menegaskan, belum terdapat standar nasional yang mengatur secara baku hubungan antara kualifikasi, pengalaman, dan gaji. Namun secara ideal, ketiga aspek tersebut harus saling berimbang.
“Gaji entry-level harus sebanding dengan kualifikasi pendidikan dan keterampilan. Pengalaman seperti magang atau proyek seharusnya meningkatkan peluang gaji, bukan menjadi syarat mutlak,” jelasnya.
Ia menilai, praktik yang mensyaratkan pengalaman tinggi dengan gaji rendah menunjukkan adanya kesenjangan dalam struktur pasar tenaga kerja.
Kondisi ini, lanjutnya, berpotensi berdampak pada motivasi dan kesehatan mental lulusan baru. Tuntutan tinggi yang tidak sebanding dengan imbalan dapat memicu kekecewaan hingga menurunkan rasa percaya diri.
Sebagai solusi, Fire menyarankan lulusan baru untuk aktif mencari pengalaman melalui kerja paruh waktu, freelance, maupun kegiatan sukarela. Selain itu, mengikuti pelatihan daring bersertifikat juga dapat meningkatkan daya saing.
“Platform pembelajaran seperti Coursera atau LinkedIn Learning dapat dimanfaatkan untuk memperoleh keterampilan praktis yang diakui industri,” paparnya.
Ia juga menilai program inkubator dan akselerator dapat menjadi alternatif untuk mengasah kemampuan melalui proyek nyata atau bahkan memulai usaha sendiri.
Di samping itu, program magang dinilai cukup membantu menjembatani pengalaman kerja bagi fresh graduate. Namun, kualitas dan relevansinya perlu ditingkatkan.
“Magang harus dirancang dengan tugas yang relevan dan supervisi yang baik. Aksesnya juga perlu diperluas agar lebih banyak lulusan dapat memanfaatkannya,” tutupnya.
Terpopuler
1
LF PBNU Umumkan 1 Dzulqadah 1447 H Jatuh pada Ahad 19 April
2
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
3
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
4
Mengapa Tidur setelah Subuh Sangat Berbahaya bagi Tubuh?
5
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulqa’dah 1447 H, Berpotensi Jatuh pada 19 April
6
Bahas Konflik Iran, Ketum PBNU Lanjutkan Safari Diplomatik ke Dubes China
Terkini
Lihat Semua