Nasional

Kuliner Tradisional Perlu Daya Dukung Inovasi dan Festival

NU Online  ·  Senin, 20 April 2026 | 18:00 WIB

Kuliner Tradisional Perlu Daya Dukung Inovasi dan Festival

Ilustrasi kuliner tradisional. (Foto: NU Online/Freepik)

Jakarta, NU Online

 

Minat masyarakat terhadap kuliner tradisional Indonesia dinilai masih kuat di tengah gempuran tren makanan modern dan pengaruh budaya pop global. Namun, inovasi penyajian serta pemerataan promosi, khususnya melalui festival kuliner di daerah, menjadi kunci untuk menjaga eksistensinya.

 

Pengisah Kuliner Ade Putri Paramadhita melihat tidak ada pergeseran signifikan dalam konsumsi kuliner masyarakat. Ia menilai makanan Indonesia justru semakin berkembang.

 

“Di industri kuliner, makanan Indonesia justru sedang berjaya. Jika dibandingkan 15–20 tahun lalu, kini semakin banyak chef yang mengangkat masakan Indonesia sebagai menu utama,” jelasnya pada Senin (20/4/2026).

 

Ade juga menyoroti pengaruh budaya pop terhadap pola konsumsi masyarakat. Ia mencontohkan fenomena meningkatnya minat terhadap makanan Korea seiring popularitas drama Korea. Hal tersebut didukung strategi pemerintah setempat dalam mempromosikan budaya kuliner mereka.

 

Meski demikian, ia melihat kuliner tradisional khas Indonesia tetap memiliki tempat tersendiri, bahkan semakin diminati karena keasliannya. “Banyak pedagang kuliner tradisional yang diminati karena kejujurannya, tanpa strategi pemasaran atau bahkan tanpa media sosial,” ujarnya.

 

Ade menambahkan, faktor penyebab usaha kuliner tidak bertahan berkaitan dengan akses, harga, dan konsistensi, bukan semata karena jenis kulinernya.

 

Namun, ia menyoroti masih minimnya kehadiran kuliner tradisional dalam festival makanan di kota-kota kecil. Berbeda dengan di kota besar seperti Jakarta, festival yang mengangkat makanan tradisional justru menarik minat besar dari pengunjung.

 

“Festival kuliner tradisional perlu diperluas ke kota-kota kecil, dengan pengemasan yang menarik serta strategi publikasi yang baik,” katanya.

 

Ia juga menyarankan kolaborasi dengan hotel dan restoran untuk menghadirkan menu tradisional sebagai bagian dari upaya pelestarian sekaligus promosi kuliner lokal.

 

Menurutnya, intervensi semacam ini penting untuk memperkuat posisi kuliner tradisional di tengah persaingan industri makanan yang semakin dinamis.

 

Senada, Binta Cantika, mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) jurusan Tata Boga, mengaku hampir setiap hari mengonsumsi makanan tradisional. Meski demikian, ia tidak menampik daya tarik kuliner modern yang dinilai lebih inovatif.

 

“Bagi saya, makanan modern menarik untuk dicoba karena banyak inovasi baru yang belum pernah saya temui,” ujarnya.

 

Menurut Binta, salah satu tantangan kuliner tradisional terletak pada aspek penyajian dan tampilan. Ia menilai kurangnya pengembangan di sisi tersebut membuat sebagian makanan tradisional kalah bersaing secara visual. Padahal, di era digital, tampilan dan branding memiliki pengaruh besar dalam menarik minat konsumen.

 

Ia juga mengakui peran media sosial dalam membentuk preferensi kuliner anak muda. “Saya sering mencari informasi kuliner melalui media sosial karena banyak rekomendasi makanan yang sedang tren,” katanya.

 

Meski begitu, Binta mengaku bangga saat mencoba kuliner lokal dari berbagai daerah. Ia menilai kekayaan rasa dan penggunaan bahan lokal menjadi daya tarik utama kuliner tradisional sebagai identitas budaya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang