Hasyim: Islam yang Berkeindonesiaan Terkandung Watak Kemandirian
NU Online · Senin, 19 Januari 2009 | 10:01 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyatakan, umat Islam Indonesia jangan mudah menggantungkan diri pada kedermawanan pihak lain. Umat Islam harus mandiri, karena kemandirian menjadikan umat mampu menentukan langkah sendiri, merancang nasib sendiri, dan menghadapi beragam problem yang sewaktu-waktu hadir.
Hal tersebut ditegaskan KH Hasyim Muzadi dalam sambutan yang dibacakan Rais Syuriah PCINU Taiwan Setiyo Gunawan dalam acara pembukaan workshop tentang Energi Alternatif di masjid kecil Taipei, Xinhai Road No.3 Lane 25 Taiwan, Ahad (18/1).<>
“Watak Islam yang berkeindonesiaan dan Indonesia yang berkeislaman, terkandung dalam watak kemandirian. Para pendahulu kita telah mengajarkan suatu sikap hidup keislaman yang percaya pada keyakinan, kekuatan, dan potensi diri sendiri atau i'timad ala nafs,” katanya.
Buah yang dipanen dari sikap hidup mandiri seperti ini adalah kemampuan Islam di Indonesia untuk tampil dalam wajahnya yang khas, wajah yang tegar menghadapi segala macam kesulitan, dan kenyataannya hingga kini terus bertahan. Buah lain yang bisa dipetik adalah cerahnya pandangan kita terhadap masa depan.
Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam Malang itu menyatakan, kemandirian adalah modal awal untuk mengawali perubahan yang nyata. Hingga sekarang, banyak orang masih memelihara kesalahpahaman bahwa perubahan selalu berkaitan dengan hal-hal yang besar.
“Seolah-olah, perubahan besar yang menyangkut nasib hidup bersama hanya bisa dilakukan orang-orang besar. Padahal, hal-hal besar justru dibangun dari usaha-usaha yang sederhana namun nyata pengaruhnya. Dari keping-keping usaha yang sederhana itulah, potensi menjadi usaha yang besar terbuka lebar,” katanya.
Ketua Umum PBNU memberikan apresisi yang besar terhadap kegitan PCINU Taiwan. Dikatakan, workshop bio-energi, biogas, etanol, dan diesel skala rumah tangga merupakan sebuah kegiatan yang menyentuh sekaligus mendorong penyediaan kebutuhan dasar berbasis kemandirian.
”Dewasa ini, salah satu ancaman yang seringkali menakut-nakuti adalah krisis energi. Melambungnya harga minyak dunia memicu naiknya harga-harga bahan pokok. Hal ini, di banyak Negara termasuk Indonesia, memicu kesulitan-kesulitan hidup sehari-hari. Dalam konteks yang demikian, tentu saja workshop seperti ini menjadi penting dan relevan. Kita bisa memperjuangkan hidup dalam kemandirian,” katanya. (nam)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
2
Khutbah Jumat: Pentingnya Menjaga Privasi Anak di Media Sosial
3
Gus Kikin Kenang Perjuangan Nyai Machfudhoh Aly Ubaid untuk NU
4
Syekh Yusuf al-Makassari: Sufi Nusantara yang Ubah Dzikir Jadi Gerakan Pembebasan
5
Kemenkes Tetapkan Tarif Cek Kesehatan Jamaah Haji, Tertinggi Rp1,3 Juta
6
Subsidi Haji dari APBN, MUI: Tak Pengaruhi Keabsahan Ibadah
Terkini
Lihat Semua