Nasional

Teladan dan Perjuangan Guru Kembar Merawat Mimpi Anak-Anak Pinggiran

NU Online  ·  Sabtu, 2 Mei 2026 | 12:00 WIB

Teladan dan Perjuangan Guru Kembar Merawat Mimpi Anak-Anak Pinggiran

Sri Rossyati dan Sri Irianingsih atau kerap disapa ‘Guru Kembar’ di Sekolah Darurat Kartini pada Kamis, (30/4/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

“Guru kembar”, begitu masyarakat menyebutnya. Sosok pengabdi pendidikan yang hingga usia senja tetap menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak dari keluarga rentan. Berlokasi di bawah Tol Ancol Timur, Jakarta Utara, sepetak bangunan di atas lahan pinjaman dari PT KAI menjadi bukti nyata upaya menghadirkan akses pendidikan yang layak.


Di tengah riuhnya Jakarta, anak-anak berseragam biru-putih tampak menjalani keseharian belajar. Sebagian duduk rapi membaca buku, sebagian bercengkerama, sebagian lain menunggu makan siang dengan wadah di tangan. Suasana sederhana itu diapit aliran selokan yang mengalir pelan saat hujan turun.


Di sisi tembok, sebuah spanduk merah yang mulai usang bertuliskan “Sekolah Darurat Kartini, Ibu Guru Kembar, Gratis” menjadi penanda bahwa pendidikan tak selalu lahir dari ruang sempurna, melainkan dari keteguhan yang tak mudah goyah.


Sosok “guru kembar” merujuk pada Sri Rossyati dan Sri Irianingsih. Keduanya menapaki jalan pengabdian yang serupa dengan semangat R.A. Kartini, bukan dengan pena dan surat, melainkan dengan kapur tulis, kesabaran, dan ruang belajar sederhana.


Di tempat itu, harapan dirawat. Anak-anak datang dengan segala keterbatasan, sepatu usang, kaki berdebu, dan latar kehidupan yang keras, namun duduk rapi, belajar mengeja masa depan mereka sendiri.

 
Guru kembar sedang membimbing anak-anak. (Foto: NU Online/Suwitno)


Bagi Rossy dan Rian, mengajar bukan sekadar aktivitas, tetapi laku hidup. Tentang bertahan saat tempat belajar digusur, dan tetap membuka kelas meski atap tak selalu tersedia.


Rossy merupakan alumnus Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya, sementara Rian lulusan Fakultas Bahasa IKIP Semarang yang kini menjadi Universitas Negeri Semarang (Unnes).


Semua bermula dari peristiwa tak terduga di kawasan Pluit. Saat terjadi tawuran, mobil yang mereka tumpangi berbelok ke kawasan kolong tol. Di situlah mereka melihat banyak anak tidak bersekolah.


“Awalnya saya hanya bilang, ‘besok sekolah ya’. Ternyata besoknya sudah ada sekitar 150 anak,” kenang Rossy.


Kala itu, fasilitas nyaris tidak ada. Mereka hanya membawa papan tulis, spidol, buku, pensil, serta roti dan susu untuk anak-anak. “Kami tidak punya bangku. Tapi mereka tetap datang,” ujarnya.


Sekolah Darurat Kartini yang dirintis sejak 1990 kini telah berusia 36 tahun. Sekolah ini mencakup jenjang PAUD hingga SMA, meski hanya memiliki ruang terbatas yang multifungsi, sebagai kelas, dapur, hingga ruang makan.


 

Guru kembar sedang melatih anak-anak menari. (Foto: NU Online/Suwitno)
 

Bagi mereka, alasan mendirikan sekolah ini sederhana: memberi kesempatan bagi anak-anak yang terhalang kemiskinan. “Kami memberi makan, pakaian, sepatu, alat tulis, tas, hingga rekreasi. Semua kami tanggung,” katanya.


Perjalanan sekolah ini tidak mudah. Lima kali mengalami penggusuran, mereka berpindah dari satu lahan kosong ke lahan lain, mempertahankan keberlangsungan pendidikan di tengah keterbatasan.


Hingga akhirnya, pada 2013, bantuan datang. Sekolah ini diresmikan Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Pol. Putut Eko Bayuseno, bersama Direktur Utama PT KAI Ignasius Jonan, yang memberikan lahan untuk digunakan sebagai sekolah.


Kini, seiring hadirnya berbagai program pemerintah seperti bantuan pendidikan, peran sekolah terus beradaptasi. Guru kembar menggagas konsep maternal love academy, yakni pendidikan yang tidak hanya menyasar anak, tetapi juga memberdayakan keluarga, terutama ibu.

 
Kegiatan guru kembar dalam memberikan anak-anak makan. (Foto: NU Online/Suwitno)
 

Di sekolah ini, anak-anak tidak hanya belajar akademik, tetapi juga keterampilan hidup seperti memasak, menjahit, hingga keterampilan kerja sederhana.


Namun, satu hal yang tidak mereka lakukan adalah menyalurkan tenaga kerja. “Kami membekali ilmu, bukan menjual keterampilan. Pendidikan harus disertai nilai moral,” tegasnya.


Upaya mereka mendapat perhatian internasional. Sekolah Darurat Kartini telah dikunjungi dan diapresiasi oleh berbagai pihak dari lebih 27 negara, termasuk Jepang, Amerika, dan lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).


Meski demikian, tantangan masih ada. Banyak anak yang belum memiliki akta kelahiran, sehingga secara administratif nyaris “tidak terlihat”. “Baru sekarang ada pendataan untuk akta kelahiran,” ujarnya.


Bagi orang tua seperti Dewi Atika (41), sekolah ini sangat membantu. Ia menyekolahkan ketiga anaknya di tempat tersebut. “Di sini banyak kegiatan, anak jadi mengerti banyak hal. Semuanya juga gratis,” katanya.


Salah satu anaknya, Muhammad Fathan, kini lebih mandiri, mulai dari membantu pekerjaan rumah hingga belajar tanpa disuruh. Hal serupa dirasakan Nur Hasanah (15), siswa yang rela menempuh perjalanan panjang demi belajar. “Kadang saya harus menunggu lama, bahkan pernah jalan kaki sampai dua jam,” ujarnya.


Namun semangatnya tak surut. Ia belajar menari, memasak, hingga menjahit. “Harus tetap semangat meraih cita-cita,” katanya.


Di balik segala keterbatasan, Sekolah Darurat Kartini bukan sekadar tempat belajar, tetapi ruang harapan. Tempat di mana anak-anak pinggiran tetap memiliki kesempatan untuk bermimpi, dan memperjuangkannya.

 

Kontributor: Nisfatul Laila

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang