Indonesia akan Maju Jika Libatkan Umat Islam dalam Pembangunan
NU Online · Rabu, 28 Desember 2005 | 12:07 WIB
Jakarta, NU Online
Keterpurukan Indonesia dalam pembangunan dibandingkan dengan negara-negara lainnya dikarenakan pemerintah tidak melibatkan umat Islam, bahkan dicurigai dari zaman ke zaman. ”Umat Islam tak perlu diragukan nasionalismenya karena merekalah yang memperjuangkan berdirinya republik ini,” tandas Ketua PBNU Masdar F. Mas’udi.
Pernyataan tersebut diungkapkan dalam acara seminar ”Peningkatan Wawasan Kebangsaan bagi Para Imam, Khatib dan Takmir Masjid dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Berbangsa dalam Bernegara” di Jakarta yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), Depdagri dan Peningkatan Keswadayaan Warga Masyarakat (Pandawa) di Jakarta.
<>Pada masa Soekarno umat Islam dicurigai karena ada sekelompok kecil yang memberontak seperti DI/TII sementara pada masa orde baru, umat Islam dicurigai karena adanya komando jihad. Saat inipun, umat Islam masih dicurigai dengan adanya isu terorisme.
”Pembangunan di Indonesia harus melibatkan masyarakat bawah, bukan hanya kelas menengah atau elit. Kalau umat Islam tak dirangkul, negara ini tak akan maju,” imbuhnya.
Sebenarnya pada awal masa pembangunan tahun 1970-an, Indonesia berada jauh di depan negara lain seperti Malaysia yang meminta bantuan pengiriman guru untuk mengajar di Malaysia atau Thailand yang belajar pertanian di Indonesia. ”Tapi sekarang, kita malah hanya bisa mengirimkan tenaga kerja haram yang dikejar-kejar polisi Malaysia atau pengimpor buah-buahan dari Thailand,” tandasnya.
Argumentasi bahwa Indonesia tidak dapat maju karena negara besar dengan jumlah penduduk banyak menurut Masdar yang juga direktur P3M tersebut ternyata tak terbukti karena China dengan penduduk satu milyar lebih atau lima kali lipat penduduk Indonesia saat ini sedang maju-majunya.
Karena para pemimpin hanya berorientasi pada kepentingan mereka sendiri, maka rakyat diabaikan. Bukti kongkrit dari kebijakan ini adalah kecilnya APBN yang secara langsung dialokasikan kepada rakyat untuk kesehatan, pendidikan dan ekonomi sementara sebagian besar masih untuk fasilitas pejabat. ”Penguasa seharusnya menjadi payung Allah di bumi sehingga rakyat bisa mendapatkan perlindungan,” tandasnya.
Aspek penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah adalah penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahtaraan hidup. Pekerjaan bukan hanya sekedar aspek ekonomi saja, tetapi termasuk tugas kemanusiaan karena jika orang memiliki pekerjaan yang cocok, hidupnya akan lebih bermakna.
”Para teroris seperti Misno dan Salik yang melakukan bom bunuh diri karena mereka merasa bahwa hidupnya bermakna ketika mereka mati. Para pengangguran, orang miskin dan tak terdidik merasa hidupnya tak bermakna sehingga mudah diprovokasi,” tuturnya.(mkf)
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Libur Sekolah Awal Ramadhan 18-20 Februari 2026
2
Disambut Ketum PBNU, Presiden Prabowo Hadiri Mujahadah Kubro Harlah 100 Tahun NU di Malang
3
Resmi Dikukuhkan, Ini Susunan Pengurus MUI Masa Khidmah 2025-2030
4
Data Hilal Penentuan Awal Bulan Ramadhan 1447 H
5
Ratusan Ribu Warga Dikabarkan Bakal Hadiri Mujahadah Kubro 100 Tahun NU di Malang
6
Bumiayu Kembali Diterjang Banjir Bandang: Akses Lumpuh, Sawah dan Makam Warga Tersapu
Terkini
Lihat Semua