Industrialisasi Gagal, Kembalilah Mengurus Desa
NU Online · Senin, 27 Oktober 2008 | 20:04 WIB
Momentum kembali ke desa harus terus digalakkan menyusul kegagalan proses industrialisasi di Indonesia. Dengan kembali ke desa maka reformasi struktural kebijakan perekonomian yang membela kaum tani juga bisa digalakkan.
Demikian disampaikan Prof Dr Mochammad Maksum, Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam Halaqoh Refleksi 10 tahun Reformasi dan Revitalisasi Gerakan Sosial Nahdlatul Ulama yang di gelar PCNU Jepara bekerjasama dengan Wahid Institute, Sabtu (26/10) kemarin di gedung NU Jepara.<>
"Mestinya bangsa ini sadar bahwa selama ini telah salah kiblat, telah lalai terhadap pertanian dan pedesaan yang hakikatnya merupakan berkah Ilahiyah (anugerah). Sebab di sanalah, kodrat potensi agraris Republik Indonesia", kata Prof Maksum seperti dilaporkan kontributor NU Online Syaiful Mustaqim.
Maka untuk kembali ke desa, lanjut Wakil Ketua PWNU Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini, perlu adanya perubahan pola pikir dan kebijakan yang selama ini anti pertanian, sehingga sektor ini akan ditempatkan secara adil. Selama ini pertanian hanya dijadikan sebagai tumbal pembangunan.
Hal senada diungkapkan Bahruddin, ketua Sarikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT). Menurutnya, spirit kembali ke desa perlu dimantapkan dalam rangka mengantisipasi dampak dinamika global yang berkepanjangan. Desa yang didalamnya terdapat sektor pertanian perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak, terlebih mereka yang memang lahir dan dibesarkan di pedesaan.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan lumbung yang merupakan sebuah komunitas berbasis kelompok yang bertujuan untuk mengembangkan ekonomi desa (kerakyatan).
"Di saat negeri mengalami krisis pangan yang berkepanjangan, maka pengelolaan lumbung perlu dimaksimalkan untuk memperbaiki komoditas pertanian yang makin tersendat," kata Bahruddin.
Bahruddin yang juga pengelola komunitas belajar alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga ini menambahkan, perbaikan komoditas pertanian itu dilakukan untuk membangkitkan resistensi terhadap hak-hak rakyat petani yang selama ini selalu dikebiri. (nam)
Terpopuler
1
Ancam Ekosistem Pertembakauan, Lesbumi PBNU Tolak Rancangan Aturan Kemenko PMK dan Kemenkes soal Tembakau
2
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
3
Pemerintah Tetapkan Logo Resmi HUT ke-81 RI, Ini Makna Desain dan Cara Unduhnya
4
DPR Desak Latsarmil Calon Manajer Kopdes Dihapus, Negara Bisa Hemat Lebih dari Rp1 Triliun
5
Hari Bhayangkara Ke-80, Presiden Prabowo Klaim Polri Berkontribusi pada Ketahanan Pangan dan MBG
6
BMKG Prediksi El Nino Berlangsung hingga Setahun, Wilayah Selatan Berpotensi Dilanda Kekeringan
Terkini
Lihat Semua