Islam Transnasional Merongrong NKRI
NU Online · Selasa, 2 November 2010 | 08:30 WIB
Arah utama gerakan Islam transnasional adalah merongrong bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di masyarakat, gerakan mereka meresahkan kehidupan beragama yang sudah lama dipraktekkan di semua penjuru Nusantara. Gerakan mereka alih-alih menjunjung nilai-nilai keislaman yang mulia, tapi justru merusak citra Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Demikian dikatakan KH Tlochah Hasan (75) dalam sesi seminar bertajuk Menemukan Jatidiri Islam Indonesia-Nusantara, Selasa (2/11). Selain Kiai Tolchan, sesi pleno pertama dalam rangkaian ACIS ke-10 menghadirkan Ahmad Somboon Bualuang (Thailand), Ra’fat Asy-Syaikh (Mesir) dan Budi Munawar Rahman (Jakarta) sebagai pembicara. Diskusi dipandu oleh Amany Lubis.
gt;
“Tumbuhnya Islam transnasional di Indonesia menjadi problem karena ingin menyingkirkan keragaman Islam Nusantara. Islam yang sudah berkembang dengan lama ingin digantikan dengan Islam yang tunggal. Bahayanya, mereka mengedepankan kekerasan. Ini bahaya buat Islam,” jelasnya.
Kiai Tolchah juga mengingatkan tentang peran penting ormas-ormas Islam dalam menjaga keutuhan kehidupan berbangsa. Ormas Islam, pesannya, diharapkan bersatu untuk menjaga kemaslahatan dan kedaulatan bangsa dan negara, karena ini semua perintah agama.
“Kesadaran tinggi untuk mengedapankan kepentingan bersama daripada kepentingan kelompok, golongan, dan etnis. Karena wacana kebangsaan atau keindonesiaan membutuhkan kesamaan pandangan dan pemikiran,” tegas Kiai Tolchan yang mantan menteri agama era Presiden Gus Dur.
Dalam kesempatan itu, kiai Tolchah mengungkapkan harapannya tentang perlunya peningkatas kualitas di dunia pendidikan.
“Pemerintah wajib mendorong dengan sungguh-sungguh pada masyarakat yang bersusah payah menyelenggarakan pendidikan secara mandiri. Pendidikan Islam yang berkualitas ini penting untuk menjaga keberislaman yang sesungguhnya. Jika komunits Islamnya terdidik dengan baik, maslahahnya juga akan merembet ke bangsa dan Negara. Jika dipinggirkan, ya berlaku hukum kebalikannya,” pungkasnya. (hmz)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Menyambut Dzulhijjah dengan Semangat Beribadah
2
Khutbah Jumat: Sejarah dan Keutamaan Hari Jumat sebagai Sayyidul Ayyam
3
LF PBNU Rilis Data Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H, Idul Adha Berpotensi 27 Mei 2026
4
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
5
Khutbah Jumat: Jangan Iri Hati Ketika Orang Lain Lebih Sukses
6
MK Sebut Jakarta Masih Berstatus Ibu Kota Negara, Lalu IKN?
Terkini
Lihat Semua