Jumlah Muslim Terbesar, Indonesia Harus Lebih Berperan di Dunia
NU Online · Rabu, 22 Desember 2004 | 09:12 WIB
Jakarta, NU Online
Bertempat di Auditorium Utama Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, para peserta workshop Islam and Civil Society in the 21 th Century: a Path to Transformation yang diselenggarakan oleh ICIS dan beberapa lembaga lainnya mengadakan diskusi, Rabu.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah Prof. Dr. Azyumardi Azra yang juga menjadi narasumber mengemukakan bahwa sebagai sebuah negara dengan penduduk mayoritas muslim, umat Islam Indonesia harus memainkan peran yang lebih besar dalam mempromosikan toleransi dan insklusifitas
<>“Kita berharap konferensi ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat dan memberdayakan civil society tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara muslim yang lainnya,” tandasnya.
Sementara itu, Raja Muda Nazrin Azlan Shah dari Perak Malaysia menyampaikan makalah Developing the Economic Condition of Muslims around the World. Dia memulai dengan melihat kejayaan masa silam Islam yang dapat dijadikan sebagai spirit untuk kemajuan Islam. Selanjutnya kemajuan Islam tersebut dapat dicapai dengan meningkatkan pendidikan.
Menteri Pendidikan Malaysia Dato’ Hishammudin Tun Hussein juga memberi sumbangan pemikiran dengan menyampaikan makalah Education Reform in Malaysia Today and PM Badawi’s Islam Hidari Consept..
Dalam diskusi ini, terungkap pengakuan pesantren dan madrasah yang banyak dikelola oleh para kyai yang notabene dekat dengan NU sebagai institusi yang turut memberi sumbangan pendidikan Islam. Sikap keterbukaan dan toleransi yang dikembangkan oleh pesantren-pesantren NU dianggap dapat mencegah tindakan radikalisme.
Sebenarnya acara di UIN akan berlangsung sampai sore hari. Namun karena terdapat demo mahasiswa yang menolak kenaikan BBM maka panitia memutuskan untuk balik lagi ke Hotel Shangri La, termpat para peserta menginap seusai makan dan shalat dhuhur berjamaah.(mkf)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
5
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
6
KH Afifuddin Muhajir: Mekanisme Pemilihan Pemimpin, Apakah Harga Mati atau Beradaptasi?
Terkini
Lihat Semua