Ketua DPR RI :Hukuman cambuk terhadap TKI bisa mengusik rasa kebangsaan
NU Online · Jumat, 4 Februari 2005 | 11:29 WIB
Jakarta, NU Online
Nasib tenaga kerja Indonesia (TKI) saat ini benar-benar bak telur diujung tanduk. Ancaman hukuman cambuk kian dekat bersamaan dengan masa amnesti yang tinggal beberapa hari lagi. Namun ditengah situasi negara dalam musibah, perlakuan kasar terhadap TKI seperti hukuman cambuk seharusnya tidak terjadi, karena bisa mengusik rasa kebangsaan. Kenyataan pahit yang dihadapi para TKI di Malasyia membuat DPR RI tidak kuasa berdiam diri.
“di tengah situasi negara dalam musibah, maka perlakuan kasar terhadap TKI seperti sanksi pencambukan seharusnya tidak terjadi. Sebab hal itu, bisa mengusik rasa kebangsaan kita. Saya kira situasi ini tidak boleh terjadi,” kata Agung Laksono, ketua DPR RI kepada para wartawan di Jakarta, Jumat (4/2)
<>karena itu, kepada pemerintah DPR RI meminta dilakukannya tindakan serius dalam penanganan tenaga kerja di Malasyia. “saya harap pemerintah benar-benar serius menangani TKI,” kata Agung
Agung menekankan, permasalahan TKI saat ini sudah makin kompleks. Pada saat negara dilanda bencana seperti gempa dan tsunami, seyogyanya pemerintah tidak menambah kesengsaraan rakyat. Untuk itu DPR menekankan kepada pemerintah untuk segera mengadakan pembicaraan dengan pemerintah malasyia, sebab hal ini bukanlah kewenangan DPR.
DPR melihat jika masalah ini tidak segera diselesaikan, permasalahan besar akan muncul.
Pemerintah diharapkan bisa melakukan tindakan proaktif, seperti memebrikan informasi yang jelas kepada buruh migran. Saat ini, banyak TKI yang terkena sanksi akibat tidak mengetahui peraturan Malasyia. “Dan jangan sampai kurang informasi terutama mereka yang berada di pedalaman.,”katanya.
Langkah lain, yang perlu dilakukan adalah pemberian dokumen. Sehingga para TKI tidak tercatat sebagai TKI ilegal . “kalau perlu pemerintah proaktif, diselesaikan dokumen-dokumen ditempat (lokasi kerja), “usulnya. (Dul)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
5
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
6
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
Terkini
Lihat Semua