KH Tolhah Hasan, Kiai yang Tak Ingin Dirikan Pesantren
NU Online · Jumat, 6 Juli 2007 | 09:29 WIB
Jakarta, NU Online
Sudah jamak dimana-mana seorang kiai berkeinginan untuk mendirikan pesantren, atau jika sudah punya, ingin mengembangkannya melalui pendirian cabang di berbagai daerah. Kiai Tolhah Hasan, wakil rais aam PBNU malah tak ingin mendirikan pesantren, lho..
“Saya tak ingin mendirikan pesantren, demikian pula anak-anak saya. Keinginan saya adalah mendirikan lembaga pendidikan yang tergantung pada sistem, bukan figur,” tuturnya di PBNU, Kamis.
<>Dengan mengembangkan lembaga pendidikan yang memiliki sistem yang baik, maka proses regenerasi kepemimpinan tidak mengandalkan individu yang belum tentu penggantinya sekualitas dengan para pendahulunya.
Menurutnya masing-masing lembaga pendidikan sekolah maupun pesantren masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Pesantren di satu sisi berhasil dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan, namun disisi lain, para santri terkadang kurang kritis dalam mensikapi keadaan karena terpengaruh sistem kepemimpinan personal. Sebaliknya, sekolah umum memberikan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai, namun sangat kurang nilai-nilai keagamaan.
Salah satu wujud lembaga pendidikan untuk mengintegrasikan dua hal diatas adalah pendirian Universitas Islam Malang (Unisma) sebagai tempat untuk mengembangkan potensi kalangan pesantren dalam dunia akademik. Ia pernah duduk sebagai rektor, namun posisi tersebut telah digantikan oleh para kadernya yang berkualitas, bukan lagi oleh anak atau keluarganya.
“Untuk memberdayakan pesantren di Madura, saya memberi beasiswa kepada Gus-Gus dari pesantren di Madura. Mereka akhirnya yang membuat perubahan dari dalam. Kalau melakukan perubahan dari luar lebih susah karena adanya penolakan dari dalam,” katanya.
Beberapa lembaga pendidikan unggulan lain yang didirikan diantaranya adalah Sekolah Unggulan Sabilillah di Malang, sekolah unggulan di Riau dan di Batam. Semuanya merupakan lembaga pendidikan untuk menyelamatkan fikrah dengan tidak melupakan aspek rasional, scientific dan tehnologi.
Pendidikan yang bersifat teknik atau kejuruan menurutnya harus menjadi fokus ke depan sekolah-sekolah NU dengan mendirikan politeknik atau SMK. “Salah satu faktor kesuksesan China adalah mereka sudah mempersiapkan tenaga kerja melalui sekolah-sekolah kejuruan,” katanya. (mkf)
Terpopuler
1
Bolehkah Janda Menikah Tanpa Wali? Ini Penjelasan Ulama Fiqih
2
544 Orang Tewas dalam Gelombang Protes Iran, Amerika Pertimbangkan Opsi Militer
3
Guru Dituntut Profesional tapi Kesejahteraan Dinilai Belum Berkeadilan
4
Dakwaan Hukum Terhadap Dua Aktivis Pati Botok dan Teguh Dinilai Berlebihan dan Overkriminalisasi
5
Nikah Siri Tak Diakui Negara, Advokat: Perempuan dan Anak Paling Dirugikan
6
KontraS Soroti Brutalitas Aparat dan Pembungkaman Sipil Usai Indonesia Jadi Presiden Dewan HAM PBB
Terkini
Lihat Semua